Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC
<p align="justify"><strong>Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia (JIK-MC) </strong>accepts related writings: Health sciences allied such like: Midwifery, medicine, pharmacies, phisiotherapy, surgical medical nursing, Emergency nursing, Mental nursing, Maternity nursing and children, Community nursing, family and elderly Nursing management, ect. <strong>Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia (JIK-MC)</strong> also accepts all writings with various disciplines of science with the terms of the core points remaining in the path and scope of the world of Health Sciences.</p> <p align="justify"><strong>Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia (JIK-MC)</strong> is indexed by:<br /><a href="https://scholar.google.com/" target="_top"><img src="https://jejakdosen.com/wp-content/uploads/2022/10/GS.png" alt="scholar" width="100" height="39" /></a> <a href="https://neliti.com/" target="_top"><img src="https://jejakdosen.com/wp-content/uploads/2022/10/neliti.png" alt="neliti" width="100" height="39" /></a> <a href="hhttps://garuda.kemdikbud.go.id/" target="_top"><img src="https://jejakdosen.com/wp-content/uploads/2022/10/garuda.png" alt="garuda" width="100" height="39" /></a> <a href="https://onesearch.id/" target="_top"><img src="https://jejakdosen.com/wp-content/uploads/2022/10/Onesearch.png" alt="onesearch" width="100" height="39" /></a><a href="https://www.crossref.org" target="_top"><img src="https://jejakdosen.com/wp-content/uploads/2022/10/crossref.png" alt="crossref" width="100" height="39" /></a></p> <table class="data" width="100%" bgcolor="#f3fff0"> <tbody> <tr valign="top"> <td width="20%">Journal title</td> <td width="80%"><strong>Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia (JIK-MC)</strong></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">Subject</td> <td width="80%">Health sciences allied such like: Midwifery, medicine, pharmacies, phisiotherapy, surgical medical nursing, Emergency nursing, Mental nursing, Maternity nursing and children, Community nursing, family and elderly Nursing management, ect</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">Language</td> <td width="80%">English (preferred), Indonesia</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">ISSN</td> <td width="80%">2964-2434</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">Frequency</td> <td width="80%">12 issues per year </td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">DOI</td> <td width="80%"><strong>10.70570</strong></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">Acreditation</td> <td width="80%">-</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">Editor-in-chief</td> <td width="80%"><a href="https://scholar.google.com/citations?user=rKcgrxkAAAAJ&hl=id&authuser=1" target="_blank" rel="noopener"><strong>Ade Herman Surya Direja</strong></a></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">Publisher</td> <td width="80%">Yayasan Pendidikan Mandira Cendikia</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="20%">Citation Analysis</td> <td width="80%"><a href="https://scholar.google.com/citations?user=CzH2vu0AAAAJ&hl=en" target="_top">Google Scholar</a></td> </tr> </tbody> </table>YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIAen-USJurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia2964-2434Tingkat Kecemasan Dengan Mekanisme Koping Pada Pasien Penyakit Jantung Koroner Di Poli Jantung RSUD dr. R. Koesma Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2405
<p>Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang dapat menimbulkan kecemasan pada pasien. Tingkat kecemasan yang dialami pasien dapat mempengaruhi mekanisme koping yang digunakan dalam menghadapi kondisi penyakitnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan mekanisme koping pada pasien penyakit jantung koroner di poli jantung RSUD dr. R. Koesma Tuban.</p> <p> Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah 200 pasien penyakit jantung koroner di poli jantung RSUD dr. R Koesma Tuban. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah 133 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat kecemasan, sedangkan variabel dependen adalah mekanisme koping. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Kemudian data dianalisa menggunakan Chi-Square dengan tingkat signifikasi α = 0,05. </p> <p>Hampir separuhnya (28,6%) pasien penyakit jantung koroner mengalami kecemasan sedang dan sebagian besar (59,4%) pasien penyakit jantung koroner melakukan mekanisme koping maladaptif. Berdasarkan uji Chi-Square didapatkan nilai p = 0,000 (<0,05) yang membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan mekanisme koping pada pasien penyakit jantung koroner di poli jantung RSUD dr. R. Koesma Tuban.</p> <p> Kondisi ini menunjukkan bahwa kecemasan berperan penting dalam menentukan kemampuan pasien beradaptasi terhadap penyakit yang dideritanya, dukungan keluarga, edukasi kesehatan, dan pendampingan tenaga kesehatan diperlukan untuk membantu pasien mengelola kecemasan serta meningkatkan penggunaan mekanisme koping adaptif sehingga dapat mendukung keberhasilan pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien penyakit jantung koroner.</p>Amanda SulistiowatiTitik SumiatinSu’udi
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125952253010.70570/jikmc.v5i9.2405Pola Asuh Orang Tua Dengan Tingkat Depresi Remaja Kelas XI SMA Negeri 2 Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2422
<p><strong>Latar Belakang: </strong>Depresi dikategorikan sebagai salah satu isu kesehatan mental yang signifikan di kalangan remaja dan semakin meningkat secara global. Menurut laporan World Health Organization (2023), tingkat prevalensi depresi yang terjadi pada remaja rentang usia 15-19 tahun mencatatkan angka sebesar 3,4%. Sementara di Indonesia, depresi tercatat dialami sekitar 1,4% populasi, dengan rentang usia 15-24 tahun sebagai kelompok masyarakat yang paling berisiko. Di antara beragam faktor psikososial yang ada, pola asuh orang tua memegang peranan penting terhadap munculnya depresi pada remaja. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dan tingkat depresi pada remaja kelas XI di SMA Negeri 2 Tuban.</p> <p><strong>Metode :</strong> Penelitian ini menerapkan rancangan kuantitatif korelasional melalui pendekatan <em>cross-sectional</em> serta pengumpulan data secara retrospektif. Populasi penelitian berjumlah 323 remaja, sampel yang diambil berjumlah 179 remaja. Penentuan sampel dilakukan melalui metode <em>random sampling</em> yang memanfaatkan kuesioner Google Form, yang kemudian dianalisis menggunakan pengujian statistik <em>Chi-Square</em>.</p> <p><strong>Hasil :</strong> Berdasar dari hasil penelitian diketahui hampir seluruh responden (86,0%) memiliki orang tua yang pola asuhnya demokratis, hampir seluruh responden (84,4%) tidak mengalami depresi dan sebagian kecil (15,1%) mengalami depresi ringan. Adanya hubungan antara pola asuh orang tua dengan tingkat depresi pada remaja terkonfirmasi melalui hasil uji Chi-Square yang memperoleh nilai <em>p</em>< 0,001 (p < 0,05).</p> <p><strong>Simpulan :</strong> Hampir seluruh orang tua dari remaja kelas XI SMA Negeri 2 Tuban menerapkan pola asuh demokratis sehingga hampir seluruh remaja tidak mengalami depresi. Pola asuh demokratis terbukti berperan dalam menjaga kesehatan mental remaja. Hal ini dipengaruhi oleh layanan sekolah berupa Bimbingan Konseling (BK) yang berperan memberikan edukasi <em>parenting</em> dan fasilitas terkait perkembangan akademik murid.</p>Eryna FebriyantiTitik SumiatinSu’udiWahyuningsih Triana Nugraheni
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-132026-09-135968368910.70570/jikmc.v5i9.2422Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Pencegahan Anemia Di MAN 1 Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2350
<p>Anemia merupakan kondisi yang ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah yang lebih rendah dari nilai normal berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Sebagai protein yang berfungsi mengangkut oksigen, hemoglobin berperan dalam mendistribusikan oksigen ke seluruh jaringan tubuh untuk menunjang berlangsungnya proses metabolisme. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan tingkat pemahaman remaja putri terkait berbagai upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah terjadinya anemia di MAN 1 Tuban. Penelitian ini menerapkan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Responden yang terlibat berjumlah 124 remaja putri, yang dipilih dari populasi penelitian menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan memanfaatkan kuesioner sebagai instrumen penelitian untuk memperoleh data yang berkaitan dengan variabel yang menjadi fokus penelitian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa proporsi remaja putri di MAN 1 Tuban yang memiliki pengetahuan baik mengenai pencegahan anemia mencapai hampir separuh dari keseluruhan responden. Dari aspek karakteristik, sebagian besar responden berada pada status IMT normal serta memiliki orang tua dengan pendidikan terakhir pada jenjang SMA. Adapun berdasarkan kondisi ekonomi keluarga, mayoritas remaja putri berasal dari keluarga yang memiliki pendapatan orang tua ≤ UMR. Remaja putri yang mempunyai pengetahuan memadai mengenai pencegahan anemia umumnya lebih mampu memahami pentingnya menjaga kondisi kesehatan dan menerapkan perilaku preventif dalam kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui penerapan pola makan bergizi seimbang, peningkatan konsumsi bahan pangan yang menjadi sumber zat besi, serta kepatuhan dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran. Pemahaman yang semakin baik diharapkan dapat meningkatkan kesadaran remaja putri terhadap berbagai faktor yang berisiko menyebabkan anemia beserta dampak yang dapat ditimbulkannya.</p>Mila Nova RhamadaniWahyu Tri NingsihWahyuningsih Triana NRoudlotul Jannah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-022026-09-0259213610.70570/jikmc.v5i9.2350Persepsi Akseptor Pada Pemakaian Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Di Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2367
<p>Secara nasional program KB di Indonesia diarahkan ke metode kontrasepsi jangka Panjang (MKJP) dibandingkan non-MKJP karena dianggap lebih efektif, efisien, aman, dan ekonomis. Namun kenyataannya penggunaan MKJP masih lebih rendah dibandingkan non-MKJP. Meskipun demikian, terdapat akseptor yang telah menggunakan MKJP dengan berbagai persepsi yang dimiliki. Persepsi tersebut dapat mempengaruhi keberlanjutan penggunaan serta kepuasan akseptor terhadap MKJP. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Persepsi akseptor pada pemakaian metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Tuban. Desain penelitian ini deskriptif dengan pendekatan <em>cross-sectional. </em>Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor MKJP yang mendapatkan pelayanan KB di Puskesmas Tuban pada bulan Desember 2025 s/d Februari 2026 yaitu sebanyak 94 akseptor, dengan sampel sebanyak 76 akseptor yang diambil menggunakan teknik <em>simple random sampling. </em>Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan 24 pernyataan yang mencakup pengetahuan, keyakinan, sikap, sarana dan kemudahan akses, dukungan tenaga kesehatan dan keluarga. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar akseptor memiliki persepsi yang baik terhadap pemakaian MKJP, meskipun akseptor dengan persepsi cukup hingga kurang masih ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi akseptor memiliki peranan penting dalam mendukung penerimaan serta keberlanjutan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Dapat disimpulkan bahwa persepsi akseptor pada pemakaian MKJP di wilayah kerja Puskesmas Tuban sebagian besar dalam kategori baik. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan konseling secara berkelanjutan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman serta persepsi positif akseptor terhadap MKJP.</p>Tri Wahyu SetiyowatiTeresia Retna PuspitadewiYasin WahyuriantoRoudlotul Jannah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-062026-09-065921021910.70570/jikmc.v5i9.2367Hubungan Kualitas Tidur Dengan Tekanan Darah Pada Perawat Daily Chek Up Di Kilang Pertamina RU IV Cilacap
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2387
<p>Tidur merupakan sarana tubuh untuk memulihkan stamina secara optimal. Perawat DCU memiliki karakteristik stresor kerja yang unik dan berbeda dari perawat rumah sakit. Mereka mengalami gangguan tidur akibat pola waktu kerja dan pergeseran waktu bangun yang tidak konvensional. Gangguan siklus tidur dapat mengganggu fungsi fisiologis tubuh dan berpotensi memengaruhi tekanan darah. Tujuan: Mengetahui hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada perawat daily chek up di Kilang Pertamina RU IV Cilacap. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh perawat daily chek up di Kilang Pertamina RU IV Cilacap. Sebanyak 80 responden diambil menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa lembar isian demografi, kuesioner Pittsburg Sleep Quality Index (PSQI), dan lembar observasi pengukuran tekanan darah. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Kualitas tidur perawat daily chek up sebagian besar berada pada kategori kurang baik (48,7%), sedangkan tekanan darah sebagian besar berada pada kategori normal (51,3%). Hasil analisis Spearman Rank menunjukkan p-value = 0,000 < α = 0,05. Kesimpulan: Terdapat hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada perawat daily chek up di Kilang Pertamina RU IV Cilacap.</p>Meliyani Husnul HotimahHermawati
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-102026-09-105936036610.70570/jikmc.v5i9.2387Gambaran Kepuasan Pelayanan Pada Orang Tua Pasien Anak Berkebutuhan Khusus Di Klinik Pratama Sentra Budi Perkasa Palembang
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2396
<p>Kepuasan pelayanan merupakan respon atau penilaian seseorang setelah membandingkan antara harapan dengan pelayanan yang diterima. Kepuasan orang tua pasien menjadi salah satu indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kesehatan, terutama pada anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memiliki hambatan dalam aspek fisik, intelektual, sosial, emosional, komunikasi, maupun perkembangan. ABK dapat mengalami berbagai kondisi seperti <em>speech delay</em>, <em>autism spectrum disorder</em> (ASD), <em>cerebral palsy</em>, dan <em>global developmental delay</em> yang membutuhkan pelayanan kesehatan, terapi, dan rehabilitasi secara berkelanjutan sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing anak. Di Indonesia, ketidakpuasan terhadap pelayanan kesehatan masih ditemukan. Data di UPTD Puskesmas Selensen menunjukkan bahwa 17,4% pasien menyatakan belum puas. Tujuan: Mendeskripsikan karakteristik responden berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan serta mengidentifikasi tingkat kepuasan pelayanan pada orang tua pasien anak berkebutuhan khusus di Klinik Pratama Sentra Budi Perkasa Palembang. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampel berjumlah 20 orang tua pasien ABK yang dipilih sesuai kriteria penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kepuasan pelayanan. Hasil: Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar responden memiliki pendidikan SMA sebanyak 14 orang (70,0%), dan berdasarkan pekerjaan, responden terbanyak bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 14 orang (70,0%). Kesimpulan: Pelayanan di Klinik Pratama Sentra Budi Perkasa Palembang telah memenuhi harapan orang tua pasien ABK dan menunjukkan tingkat kepuasan yang baik.</p>Anis RahmawatiTri Susilowati
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-112026-09-115943344410.70570/jikmc.v5i9.2396Analisis Karakteristik Dan Sumber Sumber Informasi Dengan Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Kejadian Anemia
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2412
<p>Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi pada remaja putri dan dapat berdampak terhadap kesehatan serta aktivitas sehari-hari. Pengetahuan yang baik mengenai anemia diperlukan agar remaja putri mampu memahami penyebab, tanda dan gejala, dampak, serta upaya pencegahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, pendidikan (tingkat kelas), dan sumber informasi dengan tingkat pengetahuan remaja putri tentang anemia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 68 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, sedangkan analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan tingkat pengetahuan dengan nilai p-value = 0,028 (<0,05). Terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan (tingkat kelas) dengan tingkat pengetahuan dengan nilai p-value = 0,012 (<0,05). Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara sumber informasi dengan tingkat pengetahuan dengan nilai Pearson Chi-Square = 54,667, df = 4, dan p-value = 0,000 (<0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa usia, pendidikan (tingkat kelas), dan sumber informasi memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat pengetahuan remaja putri tentang anemia. Kata kunci: anemia, pengetahuan, remaja putri, usia, pendidikan, sumber informasi.</p>Anisya Putri AndiniDonny HendraUlfa HasanaIfon Driposwana Putra
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125960661210.70570/jikmc.v5i9.2412Analisis Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Di Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2358
<p>Diabetes melitus tergolong penyakit yang angka kejadiannya kian bertambah dari waktu ke waktu, sehingga menjadi perhatian kesehatan masyarakat di banyak negara termasuk Indonesia. Komplikasi serius dapat timbul apabila penyakit ini tidak dikendalikan dengan baik. Kejadian diabetes melitus dipengaruhi oleh faktor risiko yang tidak dapat diubah maupun yang dapat diubah, seperti aktivitas fisik, pola makan, obesitas, perilaku merokok, dan hipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui keterkaitan faktor tersebut dengan kejadian diabetes melitus di Puskesmas Tuban. Desain analitik korelasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em> digunakan dalam penelitian ini. Populasi berjumlah 105 anggota Prolanis di Puskesmas Tuban, dengan 83 responden dipilih sebagai sampel melalui <em>simple random sampling.</em> Aktivitas fisik, pola makan, obesitas, perilaku merokok, dan hipertensi menjadi variabel independen, sedangkan kejadian diabetes melitus sebagai variabel dependen. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis secara bivariat dengan uji <em>Chi-Square</em>. Hasil menunjukkan hubungan bermakna antara aktivitas fisik (<em>p</em>=0,008), pola makan (<em>p</em>=0,007), dan hipertensi (<em>p</em>=0,001) dengan kejadian diabetes melitus. Sebaliknya, obesitas (<em>p</em>=0,934) dan perilaku merokok (<em>p</em>=0,784) tidak menunjukkan hubungan bermakna. Pengendalian kadar glukosa darah pada anggota prolanis dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko sehingga diperlukan pengelolaan diabetes melitus secara komprehensif. Upaya pengendalian faktor risiko melalui edukasi, pemantauan rutin, serta penerapan gaya hidup sehat di pelayanan kesehatan primer berperan enjaga kestabilan glukosa darah serta menekan risiko komplikasi.</p>Ananda Dwi AgustiraWahyuningsih Triana NWahyu Tri NingsihRoudlotul Jannah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-042026-09-045910511710.70570/jikmc.v5i9.2358Paparan Debu Industri Batu Giling Dan Kejadian Ispa Pada Balita Di Desa Sumurgung Wilayah Kerja Puskesmas Jetak Kabupaten Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2378
<p>Balita merupakan kelompok yang rentan terhadap risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat belum matangnya sistem imunologis dan anatomis saluran pernapasan secara sempurna. Polusi partikulat di kawasan industri batu giling disinyalir menjadi salah satu determinan utama pemicu gangguan respirasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran paparan debu industri batu giling dan Kejadian ISPA pada balita di Desa Sumurgung wilayah kerja Puskesmas Jetak Kabupaten Tuban.</p> <p> Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi studi mencakup seluruh ibu yang memiliki anak balita sebanyak 134 orang, dengan penarikan sampel sebanyak 100 responden melalui teknik probability random sampling. Variabel yang diukur meliputi tingkat paparan debu industri batu giling dan kejadian ISPA pada balita. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur serta lembar observasi rekam medis, yang selanjutnya dianalisis menggunakan uji statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi dan persentase.</p> <p>Sebagian besar ibu berusia 31 – 45 tahun,hampir setengah ibu berpendidikan SMA, sebagian besar ibu tidak bekerja. Hampir setengah balita berada di lingkungan paparan debu dengan kategori tinggi, sebagian besar balita mengalami ISPA, sebagian besar balita dengan paparan debu tinggi mengalami ISPA.</p> <p> Secara spesifik, mayoritas kasus ISPA ditemukan pada klaster balita yang menghadapi paparan debu tingkat tinggi. Pajanan partikulat dalam proksimitas yang dekat dengan pusat industri memperbesar risiko ISPA pada balita akibat keterbatasan proteksi imunitas tubuh. Berdasarkan temuan ini, masyarakat di sekitar area industri diimbau untuk mengeskalasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), melakukan pemantauan kesehatan berkala ke fasilitas medis, serta mengoptimalkan pemenuhan nutrisi balita guna meningkatkan daya tahan tubuh anak.</p>Bilqis Naila SalsabilaTeresia Retna PuspitadewiYasin WahyuriantoSu’udi
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-092026-09-095927828710.70570/jikmc.v5i9.2378Pengetahuan Dan Sikap Pasien Tuberkulosis Paru Tentang Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis Di Puskesmas Sumurgung
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2403
<p>Tuberkulosis Paru merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengobatan menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) memerlukan waktu yang lama dan berpotensi menimbulkan efek samping yang dapat memengaruhi kepatuhan pasien. Pengetahuan dan sikap pasien terhadap efek samping OAT berperan penting dalam menunjang keberhasilan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap pasien Tuberkulosis Paru tentang efek samping Obat Anti Tuberkulosis di Puskesmas Sumurgung.</p> <p> Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel berjumlah 40 pasien Tuberkulosis Paru yang dipilih menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara deskriptif melalui distribusi frekuensi serta tabulasi silang.</p> <p> Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengah responden memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 19 responden (47,5%), sedangkan sebagian besar memiliki sikap kurang sebanyak 28 responden (70,0%). Tabulasi silang menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan pengetahuan cukup memiliki sikap kurang terhadap efek samping OAT sebanyak 16 responden (84,2%), sedangkan paling sedikit terdapat pada responden dengan pengetahuan kurang dan sikap baik sebanyak 2 responden (16,7%).</p> <p> Penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang cukup belum diikuti oleh sikap yang baik terhadap efek samping OAT. Sikap pasien dipengaruhi tidak hanya oleh pengetahuan, tetapi juga oleh pengalaman, lingkungan, dan faktor emosional. Oleh karena itu, edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan diperlukan untuk membentuk sikap positif sehingga kepatuhan pengobatan tetap terjaga dan keberhasilan terapi Tuberkulosis Paru dapat tercapai.</p>Yella Yunda YuanaYasin WahyuriantoTeresia Retna PuspitadewiSu’udi
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125950351210.70570/jikmc.v5i9.2403Konsumsi Junk Food Dengan Kejadian Hipertensi Pada Peserta Prolanis Di Puskesmas Wire
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2420
<p>Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama, baik di Indonesia maupun secara global. Salah satu penyebabnya adalah konsumsi <em>junk food</em>, yang mengandung banyak kalori, natrium, dan lemak jenuh serta dapat meningkatkan tekanan darah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara konsumsi <em>junk food</em> dan kejadian hipertensi yang terjadi pada peserta Prolanis di Puskesmas Wire. Metode: Untuk menganalisis korelasi, penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, dengan kejadian hipertensi sebagai variabel terikat dan konsumsi <em>junk food</em> sebagai variabel bebas. Untuk memilih sampel, metode purposive sampling digunakan penelitian sebanyak 92 orang dari total 120 peserta Prolanis di Puskesmas Wire. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran tekanan darah dan penggunaan kuesioner. Uji <em>Chi-Square</em> juga dilakukan dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas sebagian besar peserta Prolanis (53,3%) menderita hipertensi dan rutin mengonsumsi <em>junk food</em>. Dengan nilai p kurang dari 0,001, uji <em>chi-square</em> menunjukkan hubungan yang signifikan antara konsumsi <em>junk food</em> dan kejadian hipertensi pada peserta Prolanis di Puskesmas Wire. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa konsumsi <em>junk food</em> dapat meningkatkan tekanan darah serta berpotensi mengganggu pengendalian tekanan darah<em>.</em></p>Deswita SatrianiSu'udiTitik SumiatinWahyuningsih Triana Nugraheni
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-132026-09-135966767410.70570/jikmc.v5i9.2420Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan Diare Balita Di Puskesmas Sumberlawang
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2348
<p>Diare pada balita masih menjadi permasalahan kesehatan global dengan jumlah kasus mencapai 2 miliar setiap tahunnya. Anak usia 1–5 tahun rentan mengalami diare karena sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang secara optimal. Selain itu, pengetahuan ibu berperan penting dalam kejadian diare pada balita. Pengetahuan mengenai kebersihan tangan, penggunaan air bersih, pengelolaan makanan dan minuman, serta kebersihan lingkungan dapat membantu mengurangi risiko terjadinya diare Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang pencegahan diare pada balita di Posyandu Desa Sendangsono, Ngargotirto, Sumberlawang Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan sampel 23 anak dari total populasi 30 ibu yang dipilih secara simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas serta dianalisis secara univariat. Hasil : Mayoritas responden berusia 17-25 tahun sebanyak 11 responden (47,8%), mayoritas pendidikan terakhir SMA/SMK sebanyak 20 responden (65,5%) sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan pencegahan diare kategori cukup sebanyak 15 responden (65,2%). Kesimpulan :Tingkat pengetahuan pencegahan diare di posyandu Sendangsono mayoritas pada kategori cukup sebanyak 15 responden (65,2%).</p>Luthfiah Nurrohman PutriTri Susilowati
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-012026-09-01591910.70570/jikmc.v5i9.2348Perilaku Etika Batuk Pada Penderita Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2365
<p>Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit menular yang ditimbulkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, ditularkan lewat percikan droplet ketika penderita batuk atau bersin. Sepanjang tahun 2026, tercatat 58 orang penderita TB paru menjalani perawatan di Puskesmas Tuban. Salah satu langkah pencegahan penularan yang tergolong penting adalah penerapan etika batuk, meski praktiknya di lapangan turut dipengaruhi oleh karakteristik individu penderita, mencakup latar belakang pendidikan, kelompok usia, serta jenis kelamin. Studi ini disusun guna memperoleh gambaran mengenai perilaku etika batuk pada penderita TB paru di Puskesmas Tuban ditinjau dari ketiga karakteristik tersebut. Rancangan yang digunakan bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Seluruh penderita TB paru di Puskesmas Tuban, yakni 58 orang, dijadikan populasi sekaligus sampel penelitian melalui teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan memakai kuesioner checklist beranggotakan 10 butir pernyataan, meliputi kebiasaan menutup mulut, pemakaian masker, cara pembuangan dahak, hingga kebersihan tangan. Selanjutnya, data diolah secara univariat dan ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi maupun tabulasi silang. Temuan penelitian memperlihatkan hampir separuh responden (31,0%) menamatkan pendidikan pada jenjang SMP, mayoritas (74,1%) tergolong kelompok usia 20-59 tahun, dan sebagian besar (55,2%) berjenis kelamin perempuan. Selain itu, mayoritas penderita (74,1%) tercatat memiliki perilaku etika batuk tergolong baik. Melalui tabulasi silang terungkap bahwa hampir keseluruhan (90,9%) penderita berpendidikan SD dan seluruh (100%) penderita yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah memiliki etika batuk kurang memadai. Pada kelompok usia produktif, hampir seluruhnya (95,3%) menunjukkan perilaku baik, sementara mayoritas (71,4%) penderita lanjut usia justru berperilaku kurang baik. Adapun di antara penderita berperilaku baik, sebagian besar (75,0%) berjenis kelamin perempuan. Dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan, usia, serta jenis kelamin turut membentuk perilaku etika batuk pada penderita. Rendahnya jenjang pendidikan berkaitan erat dengan minimnya pemahaman terhadap upaya pencegahan penularan TB. Sementara itu, kelompok lanjut usia membutuhkan strategi edukasi yang lebih bersifat personal, sedangkan penderita perempuan cenderung menunjukkan kepatuhan lebih tinggi dalam menjalankan perilaku pencegahan. Oleh karena itu, edukasi kesehatan yang berkesinambungan dengan pendekatan adaptif tetap diperlukan, terutama bagi penderita berpendidikan rendah dan kelompok lansia.</p>Muhammad Fajar Wirra IrfaniWahyuningsih Triana NugrahaeniWahyu Tri NingsihTitik Sumiatin
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-062026-09-065918819710.70570/jikmc.v5i9.2365Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Pencegahan Hipertensi melalui Program CERDIK dan PATUH pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2385
<p>Hipertensi merupakan <em>The Silent Killer</em> dengan prevalensi yang terus meningkat, hingga menempatkan Puskesmas Tuban di peringkat kedua di antara puskesmas lainnya. Untuk mengendalikannya, pemerintah menjalankan program CERDIK dan PATUH. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan hipertensi melalui program CERDIK dan PATUH pada pasien hipertensi di Puskesmas Tuban. Penelitian ini menggunakan desain korelasi dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi penelitian adalah seluruh pasien hipertensi peserta Prolanis di Puskesmas Tuban sebanyak 40 orang dengan teknik total sampling. Variabel independen yaitu tingkat pengetahuan dan variabel dependennya adalah perilaku pencegahan hipertensi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner, dan data dianalisis menggunakan uji korelasi <em>Rank Spearman</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (65%) pasien hipertensi memiliki tingkat pengetahuan yang baik dan sebagian besar (65%) pasien hipertensi memiliki perilaku yang baik. Hasil uji <em>Rank</em> <em>Spearman </em>menunjukkan nilai signifikansi p = 0,001 yang mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan hipertensi. Kesimpulan: tingkat pengetahuan tentang program CERDIK dan PATUH menjadi modal kognitif penentu konsistensi perilaku pasien dalam pencegahan dan pengendalian hipertensi.</p>Anisa Salsa Bila CiditaWahyuningsih Triana NugraheniWahyu Tri Ningsih
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-092026-09-095934535210.70570/jikmc.v5i9.2385Pola Makan Dengan Ststus Gizi Pada Remaja Di MTs Sumbersari Kowang Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2394
<p>Target pemerintah dalam meningkatkan proporsi remaja berstatus gizi normal belum tercapai secara optimal. Kementerian Kesehatan RI (2023) mencatat bahwa proporsi remaja berstatus gizi normal berlandaskan Indeks Massa Tubuh berdasar Umur (IMT/U) baru mencapai sekitar 75%. Studi pendahuluan di MTs Sumbersari Kowang menunjukkan bahwa 60% dari 10 siswa Kelas VII teridentifikasi mengalami gizi kurang (kurus). Penelitian ini bertujuan guna menganalisis ikatan antara pola makan dengan status gizi pada remaja di MTs Sumbersari Kowang Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban.Metode penelitian menggunakan kuantitatif korelasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa Kelas VII MTs Sumbersari Kowang, dengan teknik total sampling yang menetapkan sampel sebanyak 49 responden. Variabel independen (pola makan) diukur menggunakan instrumen kuesioner, sedangkan variabel dependen (status gizi berbasis IMT/U) diukur melalui lembar observasi antropometri. Analisis data bivariat diuji memakai uji korelasi Spearman Rank.Hasil penelitian mengungkapkan bahwa mayoritas dominan responden (85,7%) memiliki pola makan pada kategori kurang, dan mayoritas responden (77,6%) mempunyai status gizi dalam kategori kurus. Analisis statistik Spearman Rank menghasilkan nilai p = 0,001 (alpha < 0,05) dengan koefisien korelasi r = 0,737. Temuan ini membuktikan adanya ikatan positif yang signifikan dan kuat antara pola makan dengan status gizi pada remaja di MTs Sumbersari Kowang.Penerapan pola makan yang teratur dan mematuhi prinsip Gizi Seimbang memegang peranan krusial dalam mempertahankan status gizi normal, sedangkan deviasi konsumsi berisiko memicu masalah malnutrisi (gizi kurang atau gizi lebih). Maka, sinergi edukasi gizi dan pemantauan antropometri secara berkala di lingkungan sekolah sangat direkomendasikan.</p>Umi Nur KhasanahBinti YunariyahRoudlotul JannahWahyuningsih Triana Nugraheni
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-112026-09-115941242710.70570/jikmc.v5i9.2394Tingkat Kecemasan Pada Pasien Diabetes Melitus Tentang Komplikasi Kardiovaskuler Di Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2410
<h1><sup>Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis yang dapat berkembang menjadi berbagai komplikasi, salah satunya gangguan pada sistem kardiovaskular. Ancaman terjadinya komplikasi tersebut dapat menimbulkan rasa cemas pada penderita DM dan berpotensi berdampak pada kualitas hidup serta keberhasilan pengelolaan penyakit. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran tingkat kecemasan pasien Diabetes Melitus terhadap komplikasi kardiovaskular di Puskesmas Tuban. Kajian ini menggunakan desain deskriptif dengan tingkat kecemasan pasien diabetes melitus terhadap komplikasi kardiovaskular sebagai variabel penelitian. Populasi mencakup seluruh peserta Prolanis di Puskesmas Tuban. Sebanyak 61 orang dilibatkan sebagai responden melalui teknik total sampling. Pengukuran kecemasan memakai kuesioner HARS, sedangkan data diolah secara deskriptif dan ditampilkan dalam distribusi frekuensi serta tabulasi silang. Hasil karakteristik menunjukkan bahwa kelompok usia 46-55 tahun mendominasi responden Diabetes Melitus; hampir separuh responden berpendidikan SMA, mayoritas bekerja sebagai wiraswasta, dan sebagian besar berjenis kelamin laki-laki. Pada tabulasi silang, 50% peserta Prolanis dengan kecemasan ringan berada pada usia 46-55 tahun. Mayoritas responden dengan kecemasan berat memiliki pendidikan SD, sedangkan sebagian besar responden yang mengalami kecemasan ringan bekerja sebagai PNS. Perempuan mencakup separuh pasien Diabetes Melitus yang mengalami kecemasan. Kecemasan pada pasien Diabetes Melitus tampak berkaitan dengan usia, pendidikan, pekerjaan, dan jenis kelamin. Hampir separuh peserta Prolanis dengan diabetes melitus di Puskesmas Tuban mengalami kecemasan ringan ketika memikirkan komplikasi kardiovaskular. Oleh sebab itu, pemeriksaan kecemasan secara berkala, penguatan dukungan terapeutik, dan konseling psikologis perlu dipertimbangkan untuk membantu pasien mengelola kecemasan sekaligus menjaga kualitas hidup.</sup></h1>Tety Melinda SariYasin WahyuriantoTeresia Retna Puspita DewiBinti Yunariyah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125958559410.70570/jikmc.v5i9.2410Paparan Asap Rokok Di Lingkungan Rumah Pada Balita Pneumonia Di Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2356
<p>Tingginya angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) pada anak balita salah satunya disebabkan oleh pneumonia, di mana asap rokok di lingkungan rumah menjadi salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan saluran pernapasan. Kondisi kesehatan respirasi balita ini sangat rentan terhadap faktor eksternal, termasuk polusi asap rokok di area tempat tinggal. Paparan sekunder dari anggota keluarga yang merokok memaksa anak menjadi perokok pasif yang rentan menghirup bermacam-macam polutan toksik. Studi ini dirancang untuk menganalisis gambaran paparan asap rokok pada lingkungan balita pneumonia yang berobat di Puskesmas Tuban. Pendekatan deskriptif dipilih sebagai desain dalam penelitian ini. Lingkup populasi sasarannya adalah seluruh pasien balita dengan diagnosis pneumonia di Puskesmas Tuban, Kabupaten Tuban, yang berjumlah 57 anak. Melalui teknik <em>convenience sampling</em> yang dihitung menggunakan formula Slovin, diperoleh sampel sebanyak 50 responden. Data dikumpulkan memakai kuesioner khusus yang memuat 7 butir pertanyaan terkait tingkat paparan asap rokok. Selanjutnya, data diolah melalui analisis univariat dan disajikan secara visual dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita berusia 1–3 tahun dan sebagian kecil balita berusia usia 4–5 tahun. Berdasarkan tingkat paparan asap rokok, sebagian besar balita berada pada kategori paparan tinggi, hampir setengahnya balita dalam kategori paparan rendah, dan sebagian kecil balita tidak terpapar. Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa paparan asap rokok ditemukan pada seluruh kelompok usia balita pneumonia, dengan akumulasi kasus terbanyak kelompok usia 1–3 tahun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mayoritas balita penderita pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Tuban, Kabupaten Tuban, hidup dalam lingkungan rumah dengan tingkat paparan asap rokok yang tinggi. Mengacu pada hasil tersebut, intervensi edukasi perlu digalakkan guna meningkatkan kesadaran orang tua mengenai dampak buruk asap rokok. Hal ini menegaskan pentingnya menciptakan rumah bebas asap rokok sebagai upaya melindungi kesehatan balita.</p>Tafrihatul FuadiaSu’udiTitik SumiatinWahyu Tri Ningsih
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-042026-09-0459879610.70570/jikmc.v5i9.2356Gambaran Kualitas Tidur Mahasiswa Bekerja Pada Program Studi S1 Keperawatan Alih Jenjang Di Universitas 'Aisyiyah Surakarta
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2376
<p><strong>Latar belakang: </strong>Tidur merupakan sarana tubuh untuk memulihkan stamina secara optimal. Pembatasan tidur atau kualitas tidur yang buruk dikaitkan dengan konsekuensi kesehatan yang substansial. Kualitas tidur mahasiswa yang bekerja sangat dipengaruhi oleh beban ganda akademik dan pekerjaan, yang memicu stres dan waktu istirahat terbatas. Mahasiswa keperawatan yang bekerja seringkali harus menyeimbangkan antara tanggung jawab pekerjaan dan tugas akhir. <strong>Tujuan: </strong>Mengetahui gambaran kualitas tidur mahasiswa bekerja pada Program Studi S1 Keperawatan Alih Jenjang di Universitas 'Aisyiyah Surakarta. <strong>Metode: </strong>Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa alih jenjang yang bekerja pada Program Studi S1 Keperawatan Universitas 'Aisyiyah Surakarta sebanyak 81 orang, diambil dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar isian demografi dan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data menggunakan analisis univariat. <strong>Hasil: </strong>Kualitas tidur mahasiswa bekerja sebagian besar berada pada kategori baik (50,6%). Berdasarkan tujuh komponen PSQI, kualitas tidur subjektif sebagian besar cukup baik (51,9%), latensi tidur 16-30 menit (43,2%), durasi tidur < 5 jam (32,1%), efisiensi tidur > 85% (86,4%), gangguan tidur sekali seminggu (75,4%), penggunaan obat tidur tidak pernah (93,8%), dan disfungsi siang hari 2-3 kali seminggu (56,8%). <strong>Kesimpulan: </strong>Kualitas tidur mahasiswa yang bekerja pada Program Studi S1 Keperawatan Alih Jenjang di Universitas 'Aisyiyah Surakarta sebagian besar berada pada kategori baik, meskipun komponen durasi tidur dan gangguan tidur masih menjadi domain yang perlu ditingkatkan.</p>Rina AndriyaniZulfa Mahdiatur Rasyida
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-092026-09-095925826810.70570/jikmc.v5i9.2376Dukungan Keluarga Dengan Terjadinya Komplikasi Pada Pasien Hipertensi Peserta Prolanis Di Puskesmas Semanding
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2401
<p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius apabila tidak dikontrol dengan baik. Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam membantu pasien mengelola penyakitnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan terjadinya komplikasi pada pasien hipertensi peserta prolanis di Puskesmas Semanding.</p> <p>Desain penelitian yang digunakan adalah analitik korelasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi peserta prolanis, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sehingga diperoleh 40 responden. Variabel independen adalah dukungan keluarga, sedangkan variabel dependen adalah terjadinya komplikasi hipertensi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji <em>Fisher's Exact Test</em>.</p> <p>Hasil uji statistik <em>Fisher's Exact Test</em> menunjukkan nilai signifikansi <em>p-value</em> = 0,009 dengan <em>p-value</em> < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan terjadinya komplikasi pada pasien hipertensi peserta prolanis di Puskesmas Semanding.</p> <p>Diskusi: Dukungan keluarga yang kurang baik berhubungan dengan terjadinya komplikasi pada pasien hipertensi. Untuk mencegah komplikasi hipertensi, penting meningkatkan keterlibatan keluarga dalam mendukung pengelolaan penyakit dan kepatuhan pasien terhadap perawatan kesehatan.</p>Putri Rahmawati NingsihSu’udiTitik SumiatinRoudlotul Jannah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125948749510.70570/jikmc.v5i9.2401Pengetahuan Remaja Tentang Hipertensi Dengan Gaya Hidup Sehat Di MA Manbail Futuh Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2418
<p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang dapat terjadi sejak usia remaja dan berhubungan erat dengan gaya hidup. Kurangnya pengetahuan remaja tentang hipertensi dapat menyebabkan rendahnya kesadaran dalam menerapkan perilaku hidup sehat sehingga meningkatkan risiko hipertensi sejak dini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan remaja tentang hipertensi dengan gaya hidup sehat di MA Manbail Futuh Tuban. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi penelitian terdiri dari 178 siswa kelas XI, dengan jumlah sampel sebanyak 123 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>simple random sampling</em>. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan tentang hipertensi dan gaya hidup sehat. Analisis data dilakukan menggunakan uji <em>Chi-Square</em>. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 123 responden, hampir setengahnya memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup sebanyak 50 siswa (41%), sedangkan sebagian besar memiliki gaya hidup sehat kategori buruk sebanyak 86 siswa (70%). Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square, diperoleh nilai <em>p-value</em> = 0,001 dengan taraf signifikansi < 0,05. Oleh karena itu, H₀ ditolak dan Hₐ diterima, sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan remaja tentang hipertensi dengan gaya hidup sehat di MA Manbail Futuh Tuban. Simpulan: Pengetahuan yang baik tentang hipertensi berperan dalam meningkatkan kesadaran remaja untuk menerapkan gaya hidup sehat. Semakin baik pengetahuan yang dimiliki remaja mengenai hipertensi, semakin besar kecenderungan mereka untuk menerapkan perilaku hidup sehat sebagai upaya pencegahan hipertensi sejak dini.</p>Maynisa SalsabilaBinti YunariyahRoudlotul JannahYasin Wahyurianto
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-132026-09-135964865810.70570/jikmc.v5i9.2418Pola Makan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Desa Prunggahan Kulon Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2363
<p>Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan jenis penyakit yang tidak menular namun memiliki prevalensi tinggi pada usia lanjut dan berisiko menyebabkan berbagai komplikasi serius apabila tidak dilakukan pengendalian secara tepat. Kurangnya asupan buah maupun sayur serta tingginya konsumsi makanan kaya lemak dan natrium menjadi bentuk pola makan kurang sehat yang dapat memicu kejadian hipertensi. Hubungan antara pola makan warga usia lanjut dan angka kejadian hipertensi di Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban ingin diketahui melalui riset ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui desain analitis korelasional dan rancangan <em>cross-sectional</em> dengan sebanyak 80 lansia sebagai sebagai warga yang menetap di Desa Prunggahan Kulon menjadi populasi riset, lalu dipilih 67 lansia untuk dijadikan sampel. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode <em>simple random sampling</em>. Kejadian hipertensi ditempatkan sebagai variabel terikat, sementara pola makan diposisikan sebagai variabel bebas. Data penelitian diperoleh melalui kuesioner pola makan dan pemeriksaan tekanan darah menggunakan <em>sphygmomanometer</em>. Untuk mengevaluasi data yang sudah terkumpul diproses lewat analisis univariat serta bivariat menggunakan uji <em>Chi-Square</em> untuk menguji keterkaitan pola makan dan hipertensi lansia. Lansia dengan penyakit hipertensi dalam penelitian ini sebagian besar punya kebiasaan konsumsi makanan kurang baik. Perhitungan statistik menghasilkan nilai p senilai 0,046 (p < 0,05), hal tersebut menandakan keterkaitan nyata antara hipertensi dan pola konsumsi lansia Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Upaya mencegah sekaligus mengontrol hipertensi lansia bisa dijalankan lewat pengaturan kebiasaan makan. Langkah ini dilakukan dengan menaikkan porsi buah serta sayur sembari membatasi konsumsi santapan yang kaya lemak juga garam.</p>Dian Elok PrasastiWahyuningsih Triana NWahyu Tri NingsihYasin Wahyurianto
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-052026-09-055916217010.70570/jikmc.v5i9.2363Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien TB Paru Di Puskesmas Wire Kabupaten Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2383
<p>Tingginya angka kejadian tuberkulosis paru menjadikan penyakit ini sebagai persoalan kesehatan yang terus memerlukan perhatian serius, mengingat proses penyembuhannya menuntut waktu yang tidak singkat serta rentan memicu gangguan pada sisi fisik, kejiwaan, hingga relasi sosial pasien, yang pada akhirnya menggeser kualitas hidupnya. Dalam perjalanan terapi, tidak jarang pasien mendapati dirinya terbatas dalam bergerak, mengalami gejolak perasaan, dan kehilangan sebagian produktivitas yang biasa dijalani. Di titik inilah kehadiran keluarga memberi arti penting, sebab dorongan semangat, perhatian, dan bantuan yang mereka berikan turut menopang pasien untuk bertahan menjalani seluruh proses pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien TB paru di Puskesmas Wire Tuban. Studi analitik korelasional dengan rancangan <em>cross-sectional</em> ini mengevaluasi hubungan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup penderita TB paru. Sebanyak 81 pasien yang merupakan keseluruhan populasi dijadikan sampel melalui teknik <em>total sampling</em>. Data yang diperoleh melalui kuesioner dianalisis menggunakan uji <em>Spearman Rank</em> (α = 0,05.). Temuan lapangan menunjukkan bahwa mayoritas responden menerima dukungan keluarga kategori baik (80,2%) dan memiliki kualitas hidup yang baik (81,5%). Analisis statistik menghasilkan nilai r = 0,424 dengan p-value <0,001, yang membuktikan adanya keterkaitan signifikan antara kedua variabel. Peran aktif keluarga terbukti memicu motivasi, kepatuhan terapi, serta stabilitas emosional pasien, sehingga berbanding lurus dengan peningkatan kualitas hidup mereka.</p>Dewi NuryaniSu’udiTitik SumiatinBinti Yunariyah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-092026-09-095933033710.70570/jikmc.v5i9.2383Pengaruh Konseling Gizi Dengan Metode Emo Demo Terhadap Perilaku Pemberian Makan Pada Anak Prasekolah Di Posyandu Desa Mojolegi Kecamatan Gading
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2408
<p>Anak usia prasekolah merupakan periode emas dalam proses tumbuh kembang. Pada masa ini, pemberian makan yang tepat sangat penting untuk mendukung kesehatan dan perkembangan optimal anak. Namun, masih banyak orang tua yang memiliki keterbatasan pengetahuan dan praktik dalam pemberian makan, yang menyebabkan pola makan anak menjadi kurang tepat. Sehingga menyebabkan terjadinya gizi buruk yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling gizi dengan metode Emo-Demo terhadap perilaku pemberian makan pada anak prasekolah. Desain penelitian yang digunakan adalah pra-eksperimen dengan pendekatan one-group pretest-posttest design. Populasi sebanyak 80, dan sampel sebanyak 66 ibu yang dipilih melalui teknik <em>purposive sampling</em>. Intervensi konseling dilakukan dalam empat sesi yang mencakup pretest, dua kali pemberian edukasi dengan metode Emo-Demo, dan posttest. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner perilaku pemberian makan dengan indikator frekuensi makan, jumlah makanan, dan jenis makanan. Analisis data dilakukan menggunakan <em>uji Wilcoxon. </em>Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam perilaku pemberian makan yang tepat sebelum dan setelah dilakukan intervensi konseling gizi metode Emo-Demo. Hasil uji statistik didapatkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05), yang berarti ada pengaruh antara edukasi gizi metode Emo Demo terhadap perilaku pemberian makan. Konseling dengan metode Emo-Demo terbukti efektif dalam meningkatkan perilaku pemberian makan pada anak. Pendekatan ini dapat menjadi strategi edukatif yang menarik dalam upaya pencegahan gizi buruk pada anak.</p>Agus Muhammad IqbalNafolion Nur RahmatMariani
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125955955710.70570/jikmc.v5i9.2408Penerapan Perawatan Luka Dengan Modern Dressing Alginate Terhadap Penyembuhan Luka Ulkus Diabetikum Di Klinik Salud Wound Care
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2353
<p>Ulkus diabetikum adalah salah satu komplikasi dari diabetes melitus yang dapat menyebabkan infeksi, ganggren, dan bahkan amputasi jika tidak diobati dengan benar. Perawatan penyembuhan luka <em>wound healing dressing alginate</em> dapat menjaga kelembapan luka, mengurangi edema, menyerap eksudat dan memperkuat jaringan granulasi yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Tujuan: Pengaruh penerapan perawatan luka menggunakan wound healing dressing alginate terhadap penyembuhan luka ulkus diabetikum di Klinik Salud Wound Care. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada dua responden penderita diabetes melitus yang memiliki ulkus diabetik. Perawatan luka dilakukan dengan menggunakan balutan alginate setiap 3 hari sekali selama 2 minggu. Penilaian kondisi luka dilakukan menggunakan instrumen <em>Bates Jensen Wound Assesment Tool (BWAT).</em> Hasil: Sebelum intervensi, skor <em>BWAT</em> pada Tn.B sebesar 32 (grade 2) dan Ny.S skor 36 (grade 2). Setelah penerapan, skor menurun menjadi 24 pada Tn.B dan 29 pada Ny.S. Penurunan skor menunjukka perbaikan karakteristik luka berupa berkurangnya ukuran luka, jumlah eksudat, jaringan nekrotik, serta meningkatnya jaringan granulasi. Tn.B mengalami penurunan skor sebesar 8 skor sedangkan Ny.S sebesar 7 skor. Kesimpulan: Penerapan perawatan luka menggunakan <em>wound healing dressing alginate </em>memberikan hasil yang baik dalam mempercepat proses penyembuhan ulkus diabetikum, yang ditundukkam dengan penurunan skor <em>BWAT</em> dan perbaikan kondisi luka kedua responden.</p>Septyana Fatma SariFida’ Husain
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-042026-09-0459627510.70570/jikmc.v5i9.2353Pola Makan Dan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Peserta Prolanis Di Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2374
<p>Diabetes Melitus jenis 2 adalah penyakit yang tidak dapat ditularkan dengan tingkat prevalensi yang berkembang. Di Indonesia, sekitar 70% pasien DM Tipe tidak mampu mengontrol gula darah dengan baik. Fokus Studi ini mencakup untuk menganalisis hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah pada pasien DM Tipe 2 peserta Prolanis di Puskesmas Tuban. Metode analitik korelasional dan <em>cross-sectional</em> digunakan dalam studi ini. Sampel dari 65 peserta prolanis dikumpulkan dengan metode total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner <em>Global Physical Activity Questionnaire</em> (GPAQ) untuk aktivitas fisik, kuesioner frekuensi makan (FFQ), dan rekam medis untuk kadar gula darah. Untuk melakukan analisis, <em>uji Chi-Square</em> dengan tingkat kemaknaan α = 0,05 digunakan. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar (52,3%) peserta prolanis memiliki kebiasaan makan yang sehat, mengontrol gula darah, dan hampir setengah (47,7%) peserta prolanis memiliki kebiasaan makan yang tidak sehat, dengan aktivitas ringan. Kadar gula darah dan pola makan berkorelasi, hasil menunjukkan bahwa seluruh (100%) peserta prolanis memiliki kadar gula darah normal dan menjaga pola makan yang sehat. Aktivitas fisik dan kadar gula darah berkorelasi positif. Makanan sehat dan aktivitas fisik yang lebih tinggi secara substansial berhubungan dengan terkendalinya kadar gula darah. Tenaga kesehatan diharapkan meningkatkan edukasi gizi dan program aktivitas fisik kelompok dalam Prolanis secara berkelanjutan.</p>Prasetyo Garuda NusantaraSu’udiTitik SumiatinRoudlotul Jannah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-092026-09-095923924810.70570/jikmc.v5i9.2374Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Tentang Komplikasi Jantung Pada Anggota Prolanis Dengan Hipertensi Di Puskesmas Semanding
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2392
<p><strong>Latar Belakang</strong>: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, salah satunya komplikasi jantung. Kurangnya pengetahuan dan sikap yang kurang mendukung dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi pada penderita hipertensi. untuk </p> <p><strong>Tujuan</strong>: Mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap tentang komplikasi jantung pada anggota Prolanis dengan hipertensi di Puskesmas Semanding.</p> <p><strong>Metode</strong>: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi penelitian adalah seluruh anggota Prolanis dengan hipertensi di Puskesmas Semanding sebanyak 40 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan <em>total sampling</em>. Variabel penelitian ini adalah Tingkat pengetahuan dan sikap tentang komplikasi jantung pada anggota prolanis dengan hipertensi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh anggota prolanis dengan hipertensi memiliki tingkat pengetahuan. Pada aspek sikap sebagian besar anggota prolanis memiliki sikap kurang. Hasil tabulasi silang, anggota prolanis yang memiliki sikap baik dan kurang hampir seluruhnya memiliki pengetahuan baik.</p> <p><strong>Kesimpulan</strong>: Temuan ini mengindikasi bahwa pengetahuan yang baik belum tentu diikuti oleh sikap yang positif dalam pencegahan komplikasi jantung. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi kesehatan yang berkelanjutan untuk meningkatkan sikap positif dalam pencegahan komplikasi jantung pada penderita hipertensi.</p>Putri Aelya AntasyaYasin WahyuriantoTeresia Retna PuspitadewiRoudlotul Jannah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-112026-09-1159386393Pengetahuan Remaja Tentang Sarapan, Kebiasaan Sarapan, Dan Status Gizi Pada Remaja Di SMP Negeri 2 Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2399
<p>Pertumbuhan optimal pada masa remaja sangat bergantung pada pemenuhan gizi seimbang. Namun, kebiasaan melewatkan sarapan masih marak di kalangan remaja dan berpotensi memengaruhi status gizi mereka. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengetahuan remaja tentang sarapan, kebiasaan sarapan, dan status gizi remaja di SMP Negeri 2 Tuban.</p> <p>Desain penelitian ini deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 124 siswa kelas VIII, dengan sampel 95 remaja yang dipilih menggunakan teknik probability sampling melalui simple random sampling. Data pengetahuan, kebiasaan sarapan, dan karakteristik orang tua dikumpulkan menggunakan kuesioner, sedangkan status gizi diukur melalui Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi.</p> <p>Hasil menunjukkan sebagian besar (82,1%) remaja memiliki pengetahuan tentang sarapan yang baik, sebagian besar (58,9%) memiliki kebiasaan sarapan rutin, dan sebagian besar (63,2%) memiliki status gizi normal. Kondisi tersebut banyak ditemukan pada remaja dengan orang tua berpendidikan SMA dan orang tua yang bekerja.</p> <p>Pengetahuan yang baik berperan dalam membentuk kebiasaan sarapan yang rutin, yang selanjutnya mendukung pemenuhan energi harian dan status gizi normal. Karakteristik orang tua turut berpengaruh dalam membentuk perilaku makan remaja.</p>Vrisca Ayu RamadhaniWahyu Tri NingsihWahyuningsih Triana Nugraheni
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125947247610.70570/jikmc.v5i9.2399Peran Keluarga Dan Penggunaan Media Sosial Pada Remaja Di SMAN 4 Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2416
<p>Di era modern saat ini, peran keluarga memiliki posisi yang sangat penting dan perlu dalam mengatur penggunaan media sosial pada remaja, berfungsi sebagai pendidik, pengawas, dan pembimbing. Namun, ada permasalahan terkait tingginya penggunaan media sosial yang melampaui batas wajar, kurangnya perhatian orang tua, serta pola aktivitas yang tidak teratur, yang dapat memengaruhi kesehatan mental, interaksi sosial, dan hasil belajar remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran keluarga dan penggunaan media sosial pada remaja di SMAN 4 Tuban.</p> <p>Penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Populasi penelitian adalah remaja kelas X di SMAN 4 Tuban Tahun Ajaran 2025/2026 dengan jumlah sampel 80 remaja. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner peran keluarga dan penggunaan media sosial pada remaja. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi.</p> <p>Hampir setengah remaja di SMAN 4 Tuban memiliki peran keluarga cukup. Sebagian besar remaja di SMAN 4 Tuban memiiki penggunaan media sosialnya sedang. Remaja dengan peran keluarga cukup sebagian besar memiliki penggunaan media sosial sedang. Sedangkan, peran keluarga cukup sebagian kecil memiliki penggunaan media sosial rendah.</p> <p> Remaja yang terlalu aktif di media sosial, dengan kata lain, berinteraksi lebih dari durasi, frekuensi, dan jenis kegiatan yang umum, biasanya berasal dari lingkungan yang kurang mendapatkan pengawasan dan bimbingan dari keluarga. Oleh karena itu, keberadaan keluarga sangat penting dalam memberikan kontrol, dukungan, dan panduan agar remaja dapat menggunakan platform media sosial secara bijak dan penuh tanggung jawab, sehingga dapat menghindari efek negatif yang mungkin timbul.</p>Sri Widya PutriTeresia Retna PuspitadewiYasin WahyuriantoSu'udi
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-132026-09-135962863710.70570/jikmc.v5i9.2416Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Toilet Training Dengan Keberhasilan Toileting Anak Usia Prasekolah Di TK Harapan Bunda Desa Trutup Kecamatan Plumpang
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2361
<p>Toilet training merupakan salah satu tugas perkembangan penting pada anak usia prasekolah yang berperan dalam pembentukan kemandirian serta perilaku hidup bersih dan sehat. Keberhasilan Toilet training dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah tingkat pengetahuan ibu. Kurangnya pengetahuan ibu dapat menyebabkan keterlambatan anak dalam mengontrol buang air kecil dan besar secara mandiri, ditemukan masih banyak anak di KB Harapan Bunda Desa Trutup Kecamatan Tuban masi menggunakan diapers. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Tingkat pengetahuan ibu tentang toilet training dengan keberhasilan toileting anak usia prasekolah di TK Harapan Bunda Desa Trutup Kecamatan Plumpang. Desain penelitian analitik korelasi dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 43 ibu yang memiliki anak usia Prasekolah di TK Harapan Bunda Desa Trutup Kecamatan Plumpang. Teknik sampling menggunakan metode total sampling. Menggunakan variabel independent Tingkat pengetahuan ibu tentang <em>Toilet training </em>dan dependen keberhasilan Toileting anak usia prasekolah. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan ibu dan lembar observasi untuk menilai keberhasilan Toileting anak. Analisis data menggunakan uji <em>chi-square</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruhnya ibu memiliki tingkat pengetahuan yang baik (83,7%) tentang toilet training. Hampir seluruhnya anak usia prasekolah juga telah berhasil melakukan Toileting secara mandiri (90,7%). Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan keberhasilan Toileting anak usia Prasekolah P = 0,118 (p > 0,05) sehingga H0 diterima dan H1 ditolak. Tingkat pengetahuan ibu yang baik berperan penting dalam keberhasilan <em>Toilet training </em>anak. Ibu yang memiliki pemahaman yang baik cenderung mampu menerapkan metode <em>Toilet training </em>secara tepat dan konsisten, sehingga anak lebih cepat mencapai kemandirian dalam Toileting.</p>Mohammad Fatur RahmanWahyuningsih Triana NugraheniWahyu Tri NingsihSu’udi
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-052026-09-055913814610.70570/jikmc.v5i9.2361Asuhan Keperawatan Pada Tn. D Dengan Diagnosis Medis Stroke Melalui Penerapan Swedish Massage Menggunakan Virgin Coconut Oil Terhadap Integritas Kulit Di RT 001 RW 012 Kelurahan Baloi Permai Kota Batam Tahun 2026
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2381
<p>Stroke merupakan penyebab utama kecacatan yang dapat mengakibatkan imobilisasi sehingga meningkatkan risiko terjadinya kerusakan integritas kulit akibat tekanan berkepanjangan. Salah satu intervensi keperawatan komplementer yang dapat diterapkan untuk membantu mempertahankan integritas kulit adalah <em>Swedish Massage</em> menggunakan <em>Virgin Coconut Oil</em> (VCO). Tujuan karya ilmiah ini adalah menggambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien stroke dengan penerapan <em>Swedish Massage</em> menggunakan VCO terhadap kerusakan integritas kulit. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, penyusunan intervensi, implementasi, evaluasi, dan penerapan inovasi keperawatan berbasis <em>Evidence Based Nursing</em>. Pada pengkajian ditemukan pasien mengalami stroke iskemik dengan hemiparesis kanan, tirah baring total, serta kerusakan integritas kulit berupa <em>Pressure Injury</em> Grade II pada area sakrum yang ditandai kemerahan dan kulit tampak lebih tipis. Diagnosis utama yang ditegakkan adalah kerusakan integritas kulit. Implementasi dilakukan selama tiga hari melalui reposisi setiap dua jam, edukasi keluarga, perawatan kulit, serta penerapan <em>Swedish Massage </em>menggunakan VCO. Hasil evaluasi menunjukkan kondisi kulit mengalami perbaikan yang ditandai berkurangnya kemerahan pada area sakrum, kulit tetap utuh tanpa perluasan luka, dan skor Braden meningkat dari 12 menjadi 15. Disimpulkan bahwa penerapan <em>Swedish Massage</em> menggunakan VCO efektif membantu mempertahankan integritas kulit pada pasien stroke dengan keterbatasan mobilitas. Keluarga diharapkan dapat melanjutkan tindakan reposisi, perawatan kulit, dan <em>Swedish Massage</em> secara mandiri sebagai upaya pencegahan perburukan kerusakan integritas kulit.</p>Syaripah H. DaslanCica Maria
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-092026-09-095931331910.70570/jikmc.v5i9.2381Hubungan Motivasi Ibu Dan Partisipasi Keluarga Dengan Pencegahan Stunting Pada Anak Prasekolah Di TK Zainul Hasan Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2406
<p>Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kekurangan asupan gizi jangka panjang dan seringnya infeksi, yang memengaruhi pertumbuhan fisik dan kognitif anak. Pencegahannya tidak hanya bergantung pada asupan gizi, tetapi juga motivasi ibu dan partisipasi keluarga dalam pengasuhan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan motivasi ibu dan partisipasi keluarga dengan pencegahan stunting pada anak prasekolah di TK Zainul Hasan, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo.</p> <p> </p> <p> Jenis penelitian ini analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi berjumlah 112 ibu, dan 88 responden dipilih dengan teknik Simple Random Sampling. Instrumen berupa kuesioner tentang motivasi ibu, partisipasi keluarga, dan pencegahan stunting. Analisis data dilakukan secara manual dan menggunakan SPSS dengan uji Regresi Ordinal.</p> <p> </p> <p> Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi ibu tergolong cukup (78,4%), partisipasi keluarga cukup (52,3%), dan tindakan pencegahan stunting baik (87,5%). Uji Spearman menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara motivasi ibu dengan nilai p = 0,002 dan partisipasi keluarga demgan nialai p = 0,003 dengan pencegahan stunting. Hasil regresi ordinal menunjukkan partisipasi keluarga sebagai faktor yang paling dominan (p = 0,001; wald = 7,143).</p> <p> partisipasi keluarga memiliki pengaruh yang lebih dominan dibandingkan motivasi ibu dengan pencegahan stunting pada anak prasekolah. Peningkatan motivasi ibu dan keterlibatan aktif keluarga sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.</p>Novaldi Eko WardanaDr. Ro’isah, S.KM., S.Kep., Ns., M.KesIin Aini Isnawati, S.Kep., Ns., M.Kes
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125953154210.70570/jikmc.v5i9.2406Kontrol Diri Dengan Perilaku Agresif Remaja Di SMP Negeri 2 Plumpang
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2351
<p>Perilaku agresif remaja telah meningkat dari tahun ke tahun. Perilaku agresif remaja telah meningkat dari tahun ke tahun. Di Jawa Timur perilaku agresif remaja menempati posisi tertinggi ke−2 setelah Jawa Barat, yaitu sebanyak 511 kasus fisik dan 415 kasus psikis. Pelaku dari kasus tersebut paling banyak dari kalangan teman sebanyak 382 kasus. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan perilaku agresif remaja di SMP Negeri 2 Plumpang. Metode: Desain penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi yang diteliti terdiri dari 247 remaja, dengan jumlah sampel sebanyak 153 remaja yang dipilih menggunakan teknik <em>quota sampling</em>. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner BSCS dan BAQ. Analisis data dilakukan menggunakan uji <em>Spearman-rho.</em> Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 153 remaja, sebagian besar masuk pada kategori kontrol diri sedang sebanyak 92 orang (60,1%) dan hampir seluruhnya masuk kategori perilaku agresif sedang sebanyak 121 orang (79,1%). Berdasarkan hasil uji statistik <em>Spearman-rho</em>, diperoleh nilai <em>p-value </em>< 0,001, dengan taraf signifikansi < 0,05. Oleh karena itu, dalam konteks ini, H<sub>0 </sub>ditolak dan H<sub>a </sub>diterima. Sehingga terdapat hubungan antara kontrol diri dengan perilaku agresif remaja di SMP Negeri 2 Plumpang. Simpulan: Perilaku agresif sedang menunjukkan perilaku remaja yang tidak sepenuhnya negatif secara ekstrem. Kontrol diri berperan dalam membantu remaja mengendalikan perilaku negatif. Semakin tinggi tingkat kontrol diri yang dimiliki remaja, maka semakin rendah kecenderungan munculnya perilaku agresif, begitu pula sebaliknya.</p>Septia Nova SariTitik SumiatinSu’udiYasin Wahyurianto
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-022026-09-0259374910.70570/jikmc.v5i9.2351Gaya Hidup Penderita Diabetes Melitus. Dalam Mencegah Komplikasi Kardiovaskuler Di Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2370
<p>Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang dapat menyebabkan komplikasi kardiovaskuler bila tidak terkontrol. Pencegahannya dapat dilakukan melalui penerapan gaya hidup sehat seperti pola makan, aktivitas fisik, dan manajemen stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya hidup penderita diabetes melitus dalam mencegah komplikasi kardiovaskuler di Puskesmas Tuban. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi seluruh peserta prolanis sebesar 65 orang, sampel penelitian sebesar 65 peserta Prolanis di Puskesmas Tuban dengan teknik total sampling. Variabel penelitian adalah gaya hidup penderita diabetes melitus dalam mencegah komplikasi kardiovaskuler. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar penderita diabetes melitus berjenis kelamin perempuan, usia 40–59 tahun, dan lama menderita 5–10 tahun. Hampir seluruhnya penderita diabetes melitus memiliki gaya hidup cukup sehat dalam pencegahan komplikasi kardiovaskuler, yang sebagian besar pada penderita berjenis kelamin laki-laki, usia 40–59 tahun, dan lama menderita 5–10 tahun, sedangkan gaya hidup tidak sehat sebagian kecil pada perempuan, usia 40–59 tahun dan lama menderita kurang dari 5 tahun. Penderita diabetes melitus berjenis kelamin perempuan lebih banyak memiliki gaya hidup tidak sehat karena perawatan diri kurang optimal, sedangkan laki-laki lebih banyak memiliki gaya hidup cukup sehat karena terdorong menjaga kondisi tubuh. Selain itu, penderita diabetes melitus dengan lama menderita 5–10 tahun cenderung memiliki gaya hidup cukup baik karena lebih berpengalaman dalam mengelola penyakit. Oleh karena itu, diperlukan edukasi melalui kunjungan rumah mengenai pola makan sehat, aktivitas fisik, dan manajemen stres untuk mencegah komplikasi kardiovaskuler.</p>Andiva Wardani Putri ZahrohYasin WahyuriantoTeresia Retna PuspitadewiWahyuningsih Triana Nugraheni
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-082026-09-085922022810.70570/jikmc.v5i9.2370Smartphone Addiction Dengan Terjadinya Insomnia Pada Remaja Di SMK Taruna Jaya Prawira Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2390
<p><strong>Latar Belakang: </strong>Penggunaan <em>smartphone</em> secara global mencapai 90% populasi dunia dan Indonesia pringkat ke 8 dengan durasi penggunaan hampir 5 jam setiap harinya Penggunaan smartphone berlebihan menjelang tidur bisa memicu terhambatnya produksi hormon melatonin yang menyebabkan terjadinya insomnia karena kebiasaan menunda tidur.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat terjadinya <em>smartphone</em> <em>addiction</em> dan insomnia, serta menganalisis hubungan <em>smartphone addiction</em> dengan terjadinya insomnia pada remaja SMK Taruna Jaya Prawira Tuban Kelas X jurusan Teknik Pemesinan.</p> <p><strong>Metode :</strong> Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasi dengan pendekatan <em>cross-sectional</em> dengan populasi penelitian 266 remaja, dengan teknik <em>purposive sampling</em> sampel yang diambil berjumlah 160 remaja laki-laki, dengan kuesioner melalui <em>Google Form</em>. Uji statistik yang digunakan adalah <em>Spearman Rank.</em></p> <p><strong>Hasil :</strong> Hasil penelitian menunjukan mayoritas remaja (91%) berada dalam kategori <em>smartphone</em> adaptif/normal, sedangkan (6%) lainya mengalami maladaptif berat. Ditinjau dari kualitas tidur (45%) remaja mengalami insomnia ringan. Berdasarkan hasil analisis <em>Spearman Rank</em>, diperoleh nilai <em>p</em> < 0,001$ dengan koefisien korelasi sebesar 0,343. Hal ini membuktikan adanya hubungan positif yang signifikan antara ketergantungan <em>smartphone</em> dan tingkat kejadian insomnia.</p> <p><strong>Simpulan</strong><strong> :</strong> Semakin tinggi penggunaan <em>smartphone</em> maka semakin tinggi terjadinya insomnia. Penggunaan <em>smartphone</em> berpengaruh terhadap tidur dan bisa menganggu aktivitas. Rekomendasi yang dapat di lakukan dengan mengurangi frekuensi penggunaan smartphone menjelang tidur maka akan mengurangi masalah tidur.</p>Di’ana SafitriBinti YunariahRoudlotul JannahTitik Sumiatin
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-112026-09-115936737510.70570/jikmc.v5i9.2390Tingkat Pendidikan Pasien Hipertensi Dengan Kepatuhan Dietary Approaches To Stop Hypertension (DASH) Di Wilayah Kerja Puskesmas Semanding, Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2397
<p>Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang prevelensinya terus meningkat. Kepatuhan diet DASH sebagai salah satu upaya pengendalian hipertensi masih bervariasi dan berkaitan dengan berbagai faktor, salah satunya tingkat pendidikan. Tujuan: Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis hubungan tingkat pendidikan pasien hipertensi dengan kepatuhan diet DASH di wilayah kerja Puskesmas Semanding Tuban. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi penelitian adalah 40 pasien hipertensi peserta Prolanis di Puskesmas Semanding pada bulan Mei 2026, dengan sampel yang dipilih menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Variabel independen adalah tingkat pendidikan, sedangkan variabel dependen adalah kepatuhan diet DASH. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji <em>Spearman Rank</em> dengan tingkat signifikansi <em>α</em> <0,05<em>.</em> Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengahnya (40%) pasien hipertensi berpendidikan dasar dan hampir setengahnya (75,0%) juga memiliki kepatuhan diet DASH kategori tidak patuh. Pasien hipertensi berpendidikan dasar sebagian besar tidak patuh, sedangkan pasien hipertensi berpendidikan perguruan tinggi hampir seluruhnya patuh. Uji <em>Spearman Rank</em> memperoleh nilai <em>p </em>= 0,001 (<0,05) menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan kepatuhan diet DASH. Simpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi mendukung kemampuan pasien dalam menerima, memahami, dan menerapkan informasi kesehatan sehingga meningkatkan kepatuhan terhadap diet DASH. Oleh karena itu, edukasi kesehatan yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan pasien serta penguatan pendampingan penerapan pola makan DASH direkomendasikan untuk meningkatkan kepatuhan dan membantu pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi.</p>Muhimmatul MufidahBinti YunariyahRoudlotul JannahTeresia Retna Puspitadewi
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125944545610.70570/jikmc.v5i9.2397Analisis Pengetahuan Tentang Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) Sebagai Penerapan Perilaku Hidup Bersih Daan Sehat (PHBS) Siswa
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2413
<p>Pengetahuan mengenai Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) merupakan salah satu komponen penting dalam penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada anak usia sekolah. Pengetahuan yang baik tentang CTPS dapat membantu mencegah berbagai penyakit menular dan membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswa tentang Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) sebagai penerapan PHBS di SDN 153 Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei. Populasi penelitian berjumlah 140 siswa kelas IV dan V SDN 153 Pekanbaru, dengan sampel sebanyak 63 responden yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan CTPS dan dianalisis secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 11 tahun (46,0%), berjenis kelamin perempuan (52,4%), dan berasal dari kelas V (57,1%). Tingkat pengetahuan siswa tentang CTPS sebagian besar berada pada kategori cukup sebanyak 33 responden (52,4%), kategori baik sebanyak 20 responden (31,7%), dan kategori kurang sebanyak 10 responden (15,9%). Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan siswa SDN 153 Pekanbaru tentang CTPS sebagai penerapan PHBS masih didominasi kategori cukup sehingga diperlukan upaya edukasi kesehatan secara berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan dan membentuk perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa.</p>Periska AgustinaDonny HendraIfon DriposwanaUlfa Hasana
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125961361810.70570/jikmc.v5i9.2413Hubungan Lama Persalinan Kala I Fase Aktif Antara Primigravida Yang Rutin Dan Tidak Rutin Mengikuti Senam Hamil Berbasis Thibbun Nabawi
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2359
<p>Lama persalinan kala I fase aktif merupakan salah satu indikator penting dalam proses persalinan. Senam hamil berbasis Thibbun Nabawi merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan ibu menghadapi persalinan. Mengetahui hubungan lama persalinan kala I fase aktif antara ibu primigravida yang rutin dan tidak rutin mengikuti senam hamil berbasis Thibbun Nabawi di Klinik Kehamilan Sehat Karang Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik komparatif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder. Populasi penelitian berjumlah 106 ibu primigravida, dengan sampel 50 responden yang memenuhi kriteria penelitian, terdiri atas 25 ibu rutin dan 25 ibu tidak rutin mengikuti senam hamil berbasis Thibbun Nabawi. Data dianalisis menggunakan Independent Samples t-test dan ukuran efek Cohen's d. Tidak terdapat hubungan karakteristik usia ibu, LILA, usia gestasi, dan berat badan lahir bayi antara kedua kelompok (p>0,05). Rerata lama persalinan kala I fase aktif pada kelompok rutin adalah 168,24 ± 39,30 menit, sedangkan kelompok tidak rutin 302,60 ± 58,12 menit. Hasil Independent Samples t-test menunjukkan terdapat hubungan bermakna (t=9,576; df=48; p<0,001) dengan selisih rerata 134,360 menit (95% CI: 106,149–162,571 menit). Nilai Cohen's d sebesar 2,71 menunjukkan besarnya hubungan rerata antara kedua kelompok. Terdapat hubungan lama persalinan kala I fase aktif antara ibu primigravida yang rutin dan tidak rutin mengikuti senam hamil berbasis Thibbun Nabawi. Kelompok yang rutin mengikuti senam hamil memiliki rerata lama persalinan kala I fase aktif yang lebih singkat.</p>Ayu WandiraSri Kustiyati
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-042026-09-045911812610.70570/jikmc.v5i9.2359Tingkat Pengetahuan Keluarga Tentang Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis Pada Pasien TB Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2379
<p>Tuberkulosis adalah masalah kesehatan yang membutuhkan pengobatan yang berlangsung lama menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Efek samping OAT dapat menyebabkan putus berobat, menghambat keberhasilan terapi, serta meningkatkan terjadinya resistensi terhadap obat. Kecamatan Tuban merupakan wilayah dengan jumlah kasus putus berobat tertinggi di Kabupaten Tuban, yaitu sebanyak 6 kasus pada tahun 2025. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan keluarga tentang efek samping OAT pada pasien TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Tuban. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi penelitian ini adalah seluruh keluarga pasien TB Paru yang menjalani pengobatan di wilayah kerja Puskesmas Tuban sebanyak 50 keluarga. Sampel berjumlah 50 keluarga dengan teknik <em>total sampling</em>. Variabel penelitian adalah tingkat pengetahuan keluarga tentang efek samping OAT. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan presentase. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruh dari keluarga pasien TB Paru (94%) berumur 20–59 tahun, setengahnya (50%) berpendidikan SMA, dan sebagian besar (74%) pernah mendapatkan informasi tentang efek samping OAT. Hampir setengahnya (46%) memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan sebagian kecil (18%) memiliki pengetahuan kurang. Berdasarkan karakteristik, seluruh keluarga pasien TB Paru (100%) dengan pengetahuan kurang berumur >60 tahun, hampir seluruhnya (85,7%) berpendidikan perguruan tinggi memiliki pengetahuan baik, dan sebagian besar (53,8%) keluarga dengan pengetahuan cukup tidak pernah mendapatkan informasi tentang efek samping OAT. Pengetahuan keluarga dipengaruhi oleh umur, pendidikan, dan informasi yang diperoleh. Namun, keterbatasan informasi masih menjadi hambatan dalam memahami efek samping OAT. Oleh sebab itu, pendidikan mengenai kesehatan yang berkelanjutan sangat penting untuk memperluas wawasan keluarga dalam mendukung keberhasilan terapi.</p>Qurrotun A’yuniWahyuningsih Triana NugraheniWahyu Tri NingsihTitik Sumiatin
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-092026-09-095928829910.70570/jikmc.v5i9.2379Self-Efficacy Dengan Manajemen Perawatan Diri Pada Penderita Diabetes Melitus Di Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2404
<p>Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan manajemen perawatan diri yang baik untuk mengontrol kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi. Manajemen perawatan diri meliputi berbagai upaya yang dilakukan secara mandiri oleh penderita dalam mengelola kondisi kesehatannya. Namun, pada kenyataannya, manajemen perawatan diri pada penderita diabetes melitus masih tergolong rendah.</p> <p>Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan <em>Cross-Sectional</em>. Populasi penelitian adalah seluruh anggota prolanis yang menderita diabetes melitus di Puskesmas Tuban yang berjumlah 65 penderita diabetes melitus, dengan sampel 56 penderita yang dipilih menggunakan teknik <em>simple random sampling</em>. Variabel independen dalam penelitian ini adalah <em>Self-Efficacy</em>, sedangkan variabel dependen adalah manajemen perawatan diri. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner <em>Diabetes Management Self-Efficacy Scale</em> (DMSES) dan <em>Summary of</em> <em>Diabetes Self-Care Activities</em> (SDSCA). Analisis data dilakukan menggunakan uji <em>Chi-Square</em> dengan tingkat signifikansi α = 0,05.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita diabetes melitus memiliki <em>Self-Efficacy</em> tinggi (57,1%) dan sebagian besar penderita diabetes melitus memiliki manajemen perawatan diri baik (60,7%). Hasil uji <em>Chi-Square</em> menunjukkan nilai <em>P-Value</em> < 0,001, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara <em>Self-Efficacy</em> dengan manajemen perawatan diri pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Tuban.</p> <p><em>Self-Efficacy</em> memiliki peran penting dalam meningkatkan manajemen perawatan diri pada penderita diabetes melitus. Semakin tinggi <em>Self-Efficacy</em> yang dimiliki penderita, semakin baik kemampuan mereka dalam melakukan perawatan diri sehingga dapat membantu mencegah komplikasi diabetes melitus.</p>Berliana Kartika PutriTitik SumiatinSu’udiWahyuningsih Triana Nugrahaeni
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125951352110.70570/jikmc.v5i9.2404Stigma Sosial Dengan Kualitas Hidup Pasien TB Paru Diwilayah Kerja Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2421
<p><strong>Latar Belakang: </strong>Penyakit tuberkulosis paru sampai saat ini masih menempati posisi sebagai salah satu permasalahan kesehatan utama di Indonesia dan tergolong sebagai penyakit menular. Selain menimbulkan gangguan fisik, pasien TB paru sering mengalami stigma sosial dari lingkungan sekitar. Stigma sosial dapat memengaruhi kondisi psikologis, hubungan sosial, serta kualitas hidup penderita. Oleh sebab itu, penting guna mengetahui hubungan stigma sosial dengan kualitas hidup pasien TB paru untuk menjadikan hal yang esensial guna mendukung peningkatan layanan kesehatan secara holistik.</p> <p><strong>Metode :</strong> Penelitian ini dirancang menggunakan metode korelasional dengan melalui <em>cross-sectional</em>. Populasi target mencakup seluruh penderita TB paru yang terdaftar berobat di Puskesmas Tuban sepanjang bulan Mei 2026. Melalui teknik <em>total sampling</em>, penelitian ini melibatkan 51 responden sebagai sampel. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara stigma sosial sebagai variabel independen dengan kualitas hidup penderita TB paru sebagai variabel dependen. Pengukuran data menggunakan kuesioner khusus terkait stigma sosial dan kualitas hidup, yang selanjutnya diuji secara statistik dengan <em>Spearman Rank</em> pada batas signifikansi α = 0,05.</p> <p><strong>Hasil :</strong> Temuan dalam penelitian ini mengindikasikan bahwa hampir seluruh (87,2%) mengalami stigma sosial sedang dan hampir seluruh (88,2%) Kualitas hidup baik. Hasil<em> uji korelasi Spearman Rank menghasilkan </em>nilai signifikansi <em>p</em> = 0,457 (<em>p</em> > 0,05). Hasil analisis menunjukkan tidak adanya korelasi statistik yang signifikan antara stigma sosial dengan kualitas hidup pasien TB paru di area kerja Puskesmas Tuban.</p> <p><strong>Simpulan :</strong> Tidak ditemukannya hubungan signifikan antara kedua variabel ini menandakan bahwa stigma sosial bukanlah satu-satunya faktor penentu kualitas hidup pasien TB paru. Terdapat indikator lain yang juga memegang peranan penting, diantaranya adalah dukungan keluarga, tingkat kepatuhan terapi pengobatan, kondisi fisik pasien, serta pelayanan dari tenaga kesehatan. Meskipun demikian, upaya pengurangan stigma tetap diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan psikososial pasien TB paru.</p>Mochamad Syifa’ul QolbiTitik SumiatinSu’udiWahyu Tri Ningsih
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-132026-09-135967568210.70570/jikmc.v5i9.2421Tingkat Pengetahuan Dan Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner Pada Remaja Di SMAN 1 Tambakboyo Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2349
<p>Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kematian didunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini terjadi akibat pembuluh darah koroner yang memasok oksigen dan nutrisi ke jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan. Penyakit ini dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti pola makan, kebiasaan merokok, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja dan faktor risiko penyakit jantung koroner pada remaja di SMAN 1 Tambakboyo Tuban. Desain penelitian <em>deskriptif</em> dengan menggunakan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Dengan jumlah sampel sebanyak 151 responden yang diambil menggunakan teknik <em>simple random sampling</em>. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Sebagian besar remaja kelas X di SMAN 1 Tambakboyo Tuban berjenis kelamin perempuan berusia 16 tahun. Tingkat pengetahuan remaja tentang jantung koroner hampir seluruhnya berada pada kategori baik. Berdasarkan faktor Risiko, Sebagian besar memiliki pola makan dalam kategori baik, hampir seluruhnya tidak memiliki kebiasaan merokok, sebagian kecil remaja memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam kategori obesitas, serta hampir seluruh remaja memiliki aktivitas fisik yang baik. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa hampir seluruhnya remaja memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai penyakit jantung koroner dan hampir seluruhnya tidak memiliki faktor risiko yang tinggi. Namun demikian, masih terdapat sebagian remaja yang memiliki faktor risiko sehingga diperlukan edukasi kesehatan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran dan membentuk perilaku hidup sehat sejak usia remaja.</p>Happy NovitasariWahyu Tri NingsihWahyuningsih Triana NYasin Wahyurianto
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-022026-09-0259102010.70570/jikmc.v5i9.2349Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Dampak Cyberbullying Remaja Di SMP Negeri 2 Plumpang
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2366
<p><em>Cyberbullying</em> merupakan bentuk perundungan yang dilakukan melalui media digital yang dapat memberikan dampak serius, baik secara psikologis, sosial, akademik, maupun fisik pada remaja. Kasus <em>cyberbullying</em> terus meningkat seiring tingginya penggunaan internet pada remaja di Indonesia. Rendahnya pengetahuan remaja mengenai dampak <em>cyberbullying</em> menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya perilaku tersebut. Tujuan: Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang dampak <em>cyberbullying</em> di SMP Negeri 2 Plumpang Tuban. Metode: Desain pada penelitian ini adalah deskriptif dengan populasi penelitian seluruh siswa kelas VII dan VIII di SMP Negeri 2 Plumpang Tuban berjumlah 247 siswa. Besar sampel sebanyak 153 responden menggunakan teknik <em>simple random sampling</em> dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner<em>.</em> Hasil: Hasil penelitian didapatkan hampir seluruh remaja di SMP Negeri 2 Plumpang Tuban memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 122 responden (79,7%), sebagian kecil memiliki pengetahuan cukup sebanyak 30 responden (19,6%) dan memiliki pengetahuan kurang sebanyak 1 responden (0,7%). Simpulan: Remaja cenderung telah memiliki pemahaman yang baik mengenai dampak <em>cyberbullying</em>, namun masih terdapat sebagian kecil yang memiliki pengetahuan cukup dan kurang. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa di SMP Negeri 2 Plumpang Tuban pernah terjadi kasus perundungan yang dinilai berdampak negatif terhadap siswa dan pernah dilakukan penyuluhan mengenai bahaya perundungan. Namun, penyuluhan mengenai dampak <em>cyberbullying</em> belum dilakukan secara optimal, sehingga perlu adanya upaya edukasi yang berkelanjutan melalui literasi digital dan penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran serta mencegah terjadinya <em>cyberbullying</em> dikalangan remaja.</p>Widya Nurbani AuliaTitik SumiatinSu’udiRoudlotul Jannah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-062026-09-065919820910.70570/jikmc.v5i9.2366Penatalaksanaan Myalgia Di Masyarakat Desa Mandirejo Kecamatan Merakurak
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2386
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Myalgia (nyeri otot) merupakan gangguan muskuloskeletal yang sering dialami masyarakat akibat aktivitas fisik berlebihan, kelelahan, maupun faktor pekerjaan. Prevalensi Myalgia di Kabupaten Tuban menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun, sehingga penatalaksanaan yang tepat oleh masyarakat menjadi hal penting untuk diperhatikan.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Mengetahui gambaran penatalaksanaan Myalgia di masyarakat Desa Mandirejo Kecamatan Merakurak.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien Myalgia yang periksa di Puskesmas Merakurak sejumlah 121 orang. Sampel penelitian sebanyak 93 responden dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Hampir setengah berusia 31–40 tahun, sebagian besar berpendidikan menengah, bekerja, dan memperoleh informasi dari tenaga Kesehatan, Adapun penatalaksanaan Myalgia sebagian besar masyarakat melakukan kedua jenis tindakan, hampir setengahnya melakukan satu jenis tindakan, dan sebagian kecil tidak melakukan tindakan. Berdasarkan karakteristik masyarakat, sebagian besar masyarakat usia 31–40 tahun, Sebagian besar berpendidikan menengah, sebagian besar bekerja melakukan kedua jenis tindakan, rata-rata sebagian besar Masyarakat mendapat informasi dari tenaga kesehatan dan sumber lainnya, seperti keluarga, teman, media massa, media sosial, internet, maupun pengalaman pribadi, melakukan kedua jenis tindakan.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Penatalaksanaan Myalgia di masyarakat Desa Mandirejo Kecamatan Merakurak sebagian besar dilakukan melalui kombinasi tindakan farmakologis dan non-farmakologis. Kondisi ini menunjukkan pentingnya edukasi berkelanjutan mengenai swamedikasi yang aman serta dukungan tenaga kesehatan dalam penatalaksanaan Myalgia.</p>Wahyu Fajar Indra YogatamaTeresia Retna PuspitadewiYasin WahyuriantoTitik Sumiatin
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-102026-09-105935335910.70570/jikmc.v5i9.2386Penerapan Asuhan Keperawatan Terapi Menggambar Pada Lansia Dengan Demensia Di Panti Jompo Embun Kehidupan Bangsa Pekanbaru
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2395
<p>Demensia merupakan gangguan neurokognitif yang ditandai dengan penurunan daya ingat, orientasi, dan fungsi kognitif pada lansia sehingga dapat memengaruhi kemandirian dan kualitas hidup. Terapi menggambar merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat memberikan stimulasi kognitif pada lansia dengan demensia. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan asuhan keperawatan gerontik melalui terapi menggambar pada lansia dengan demensia di Panti Jompo Embun Kehidupan Bangsa Pekanbaru. Metode yang digunakan adalah studi kasus terhadap lima orang lansia yang dilakukan selama enam hari melalui tahapan proses keperawatan meliputi pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), penyusunan intervensi berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), implementasi, dan evaluasi. Penilaian fungsi kognitif dilakukan menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE). Hasil menunjukkan adanya peningkatan fungsi kognitif, konsentrasi, daya ingat, komunikasi, dan partisipasi lansia setelah diberikan terapi menggambar. Terapi menggambar dapat menjadi salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat diterapkan untuk membantu meningkatkan fungsi kognitif pada lansia dengan demensia.</p>NofriandiIfon DriposwanaFitry ErlinDonny Hendra
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-112026-09-115942843210.70570/jikmc.v5i9.2395Hubungan Lama Penggunaan Smarthpone Dengan Self Regulation Pada Remaja Usia 10-12 Tahun Di SDN Satreyan 3
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2411
<p>Perkembangan teknologi menyebabkan penggunaan smartphone pada anak usia sekolah semakin meningkat. Penggunaan smartphone yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi kemampuan <em>self regulation</em>, yaitu kemampuan individu dalam mengendalikan pikiran, emosi, dan perilaku. Rendahnya regulasi diri pada anak berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan lama penggunaan smartphone dengan <em>self regulation</em> pada anak usia 10-12 tahun di SDN Satreyan 3. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik korelasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi penelitian adalah seluruh siswa usia 10–12 tahun di SDN Satreyan 3, dengan jumlah sampel sebanyak 46 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner lama penggunaan smartphone dan kuesioner <em>self regulation</em>. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengah responden memiliki lama penggunaan smartphone kategori sedang sebanyak 22 responden (47,8%), sedangkan kategori rendah dan tinggi masing-masing sebanyak 12 responden (26,1%). Sebagian besar responden memiliki <em>self regulation</em> kategori sedang sebanyak 23 responden (50,0%), kategori tinggi sebanyak 12 responden (26,1%), dan kategori rendah sebanyak 11 responden (23,9%). Hasil uji Spearman Rank diperoleh nilai p-value = 0,000 (p < 0,05), sehingga H₁ diterima yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara lama penggunaan smartphone dengan <em>self regulation</em> pada anak usia 10–12 tahun di SDN Satreyan 3. Disimpulkan bahwa semakin tinggi lama penggunaan smartphone, maka semakin berpengaruh terhadap kemampuan <em>self regulation</em> anak. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif orang tua, guru, dan tenaga kesehatan dalam mengawasi serta mengarahkan penggunaan smartphone agar tetap sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak sehingga regulasi diri dapat berkembang secara optimal.</p>Siti Zeinatul HasanahAinul Yaqin SalamNur Hamim
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125959560510.70570/jikmc.v5i9.2411Status Gizi Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2357
<p>Hipertensi masih menjadi salah satu masalah kesehatan pada sebagian kelompok lanjut usia dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi apabila tidak dikendalikan dengan baik. Berbagai faktor dapat berhubungan dengan kejadian hipertensi salah satunya status gizi. Status gizi yang berlebih dapat memengaruhi kondisi kesehatan lansia, termasuk tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan status gizi dengan kejadian hipertensi pada lansia di Puskesmas Tuban Kabupaten Tuban. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang menjadi anggota aktif program prolanis dipuskesmas tuban, dengan sampel yang diambil menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Variabel independen dalam penelitian ini adalah status gizi, sedangkan variabel dependen adalah kejadian hipertensi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasional. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji <em>Chi-Square</em>. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa hampir seluruhnya lansia yang menderita hipertensi memiliki status gizi berlebih. Uji statistik diperoleh nilai p=0,001 (p<0,05), sehingga menunjukan adanya hubungan antara status gizi dengan kejadian hipertensi pada lansia di Puskesmas Tuban Kabupaten Tuban. Hubungan antara status gizi dan kejadian hipertensi menunjukan, peningkatan indeks massa tubuh pada lansia dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Kelebihan status gizi dapat menyebabkan penumpukan lemak dalam tubuh yang berdampak pada peningkatan resistensi pembuluh darah dan beban kerja jantung. Temuan ini memperkuat teori bahwa status gizi merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya hipertensi pada lansia.</p>Sulimatu Sa’diyahTitik SumiatinSu’udiYasin Wahyurianto
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-042026-09-04599710410.70570/jikmc.v5i9.2357Kebiasaan Minum Teh Setelah Makan Dengan Kejadian Anemia Pada Santri Putri Di Pondok Pesantren Ash Shomadiyah Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2377
<p>Anemia gizi besi masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang dominan di Indonesia, khususnya pada kelompok remaja putri di ekosistem pesantren yang rentan akibat berbagai determinan, termasuk perilaku asupan teh postprandial yang menginhibisi absorpsi mineral besi. Pengkajian ini berorientasi untuk menguji korelasi antara habituasi konsumsi teh pascamakan terhadap insidensi anemia pada populasi santriwati di Pondok Pesantren Ash Shomadiyah Tuban. Metode observasional analitik berdesain cross-sectional diterapkan dengan menempatkan habituasi minum teh pascamakan sebagai variabel bebas dan manifestasi anemia sebagai variabel terikat. Seluruh populasi santri putri sebanyak 60 subjek dilibatkan secara utuh memanfaatkan pendekatan total sampling. Evaluasi deskriptif mengidentifikasi bahwa porsi terbesar sampel (70,0%) mencatatkan habituasi konsumsi teh pada kategori adekuat, meskipun tingkat kejadian indikasi klinis anemia mencakup proporsi mayoritas (75,0%). Analisis kontingensi memperlihatkan gejala anemia dialami oleh 83,3% responden pada kelompok kebiasaan baik dan 55,6% pada kelompok kebiasaan kurang adekuat. Komputasi biostatistik memanfaatkan uji alternatif Fisher's Exact Test menghasilkan probabilitas p = 0,048 (p < 0,05), yang mengonfirmasi keberadaan korelasi signifikan secara statistik antara habituasi asupan teh sesaat setelah makan dengan risiko presipitasi anemia. Temuan ini mempertegas bahwa perilaku konsumsi teh postprandial berkontribusi nyata terhadap risiko anemia gizi besi, yang berpotensi diperberat oleh intensitas aktivitas fisik harian. Oleh sebab itu, penguatan program promosi kesehatan melalui edukasi literasi gizi terstruktur krusial diimplementasikan demi mengoptimalkan upaya preventif di lingkungan pesantren.</p>Muchammad Nauvas SyauqiBinti YunariyahRoudlotul JannahYasin Wahyurianto
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-092026-09-095926927710.70570/jikmc.v5i9.2377Pengetahuan Remaja Tentang Tablet Tambah Darah Dengan Penggunaan Tablet Tambah Darah Di MAN 1 Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2402
<p><strong>Latar Belakang :</strong> Anemia dikategorikan sebagai salah satu gangguan kesehatan yang sering terjadi pada kelompok remaja putri. Permasalahan yang kerap dihadapi oleh kelompok remaja dengan penggunaan tablet tambah darah secara konsisten hingga saat ini masih belum sepenuhnya diterapkan oleh kalangan remaja. Risiko terjadinya anemia dapat ditekan dengan melalui pemberian dan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara teratur.</p> <p><strong>Tujuan: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan remaja mengenai Tablet Tambah Darah dengan penggunaanya di MAN 1 Tuban.</p> <p><strong>Metode :</strong> Rancangan pada penelitian ini menggunakan metode korelasional dengan melalui pendekatan <em>cross-sectional</em>. Penelitian melibatkan populasi sebanyak 230 siswi kelas XI MAN 1 Tuban, yang kemudian disaring menjadi 146 responden sebagai sampel dengan melalui teknik <em>simple random sampling</em>.</p> <p><strong>Hasil :</strong> Data penelitian ini menunjukan bahwa tingkat pengetahuan serta perilaku dalam penggunaan Tablet tambah darah pada sebagian besar remaja di MAN 1 Tuban berada dalam kategori baik. Hasil analisis bivariat turut mengonfirmasi bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang signifikan (<em>p</em>-value< 0,04).</p> <p><strong>Kesimpulan :</strong> Pengetahuan remaja putri mengenai tablet tambah darah (TTD) memiliki hubungan searah dengan penggunaan TTD tersebut. Berdasarkan hal tersebut, penguatan edukasi serta promosi kesehatan terkait TTD menjadi langkah yang penting dalam mengoptimalkan tingkat kepatuhan konsumsinya.</p>Karina Sasla Bila Putri iWahyu Tri NingsihWahyuningsih Triana NBinti Yunariyah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125949650210.70570/jikmc.v5i9.2402Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Dalam Pencegahan Bayi Berat Badan Lahir Rendah Di Wilayah Kerja Puskesmas Wire
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2419
<p>Tingginya angka morbiditas dan mortalitas neonatal salah satunya dipicu oleh kejadian BBLR. Kasus BBLR di Kabupaten Tuban terpusat di Kecamatan Semanding sebagai wilayah dengan prevalensi tertinggi, di mana tercatat 74 kasus pada 2024 dan naik menjadi 77 kasus pada 2025. Untuk mengantisipasi masalah ini, pemahaman ibu hamil terkait potensi risiko, konsekuensi medis, dan tindakan pencegahan BBLR perlu ditingkatkan secara optimal. Pengetahuan yang baik diharapkan mampu mendorong ibu hamil menerapkan perilaku sehat selama kehamilan. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana pemahaman ibu hamil terkait upaya pencegahan kejadian BBLR di wilayah kerja Puskesmas Wire. Studi ini menerapkan pendekatan deskriptif dengan meneliti populasi yang mencakup seluruh ibu hamil trimester I dan II di wilayah kerja Puskesmas Wire, yaitu sebanyak 49 orang. Melalui teknik <em>purposive sampling</em>, sebanyak 49 responden ditetapkan sebagai sampel. Data dihimpun dengan instrumen kuesioner, lalu diolah menggunakan analisis deskriptif untuk menyajikan distribusi frekuensi serta persentase. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden memahami tindakan pencegahan BBLR dengan sangat baik. Kelompok yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi ini didominasi oleh individu berusia 20-35 tahun (70,5%), lulusan jenjang SMA (72,0%), serta status aktif bekerja (94,4%). Sebaliknya, responden yang memiliki pengetahuan minim relatif kecil, dimana kelompok ini ditemui pada usia 20-35 tahun (6,8%), berlatar belakang pendidikan SD dan SMP (11,8%), serta tidak memiliki pekerjaan (9,7%). Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ibu hamil telah memiliki edukasi yang memadai terkait pencegahan BBLR. Pengetahuan yang baik diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan BBLR melalui pemenuhan gizi yang adekuat, konsumsi tablet Fe secara teratur, serta pemeriksaan kehamilan secara rutin dan berkesinambungan</p>Putri Nabila Dhea Deswitasari1Wahyuningsih Triana NugraheniWahyu Tri NingsihBinti Yunariyah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-132026-09-135965966610.70570/jikmc.v5i9.2419Stres Akademik Yang Dihadapi Mahasiswa Semester 4 Di Poltekkes Kemenkes Surabaya Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2364
<p>Stres akademik sering dialami mahasiswa keperawatan akibat tingginya tuntutan tugas, ujian, dan praktik klinik yang dapat berdampak pada prestasi belajar dan kesehatan mental jika tidak dikelola dengan baik. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran stres akademik yang dihadapi mahasiswa semester 4 Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban. Metode: Desain penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi yang diteliti terdiri dari 82 mahasiswa, dengan jumlah sampel sebanyak 68 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik <em>simple random sampling</em>. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner stres akademik. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat<em>.</em> Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 82 mahasiswa, sebagian besar mahasiswa semester 4 Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban dengan kategori umur remaja (< 20 tahun) memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 18 mahasiswa (72%), hampir seluruh mahasiswa dengan jenis kelamin laki-laki memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 5 mahasiswa (83%), sebagian besar mahasiswa yang tinggal bersama orang tua memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 20 mahasiswa (71%), dan hampir seluruh mahasiswa yang aktif dalam organisasi memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 19 mahasiswa (79%). Simpulan: Temuan menunjukkan stres akademik mahasiswa masih dalam batas adaptif, mencerminkan kemampuan cukup baik dalam mengelola tekanan. Kondisi ini dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Adaptasi yang baik mendukung kelancaran akademik karena tanpa koping efektif, stres dapat meningkat. Diperlukan upaya berkelanjutan melalui dukungan sosial, manajemen waktu, dan aktivitas positif guna menjaga kesehatan mental.</p>Paskalia Siska Putri FebrinaYasin WahyuriantoTeresia Retna PuspitadewiBinti Yunariyah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-052026-09-055917118710.70570/jikmc.v5i9.2364Kesiapan Fisik Dan Psikologis Wanita Dalam Menghadapi Menopause Di Rw 06 Kelurahan Latsari Kecamatan Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2384
<p> </p> <p> Menopause tidak hanya ditandai dengan berhentinya menstruasi akibat penurunan hormon estrogen, tetapi juga disertai berbagai perubahan fisik dan psikologis. Masih banyak wanita premenopause yang belum memiliki kesiapan fisik dan psikologis yang baik dalam menghadapi menopause. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesiapan fisik dan psikologis wanita dalam menghadapi menopause di RW 06 Kelurahan Latsari Kecamatan Tuban.</p> <p>Desain penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah wanita usia 40-50 tahun di RW 06 Kelurahan Latsari Kecamatan Tuban yang berjumlah 60 orang, dengan besar sampel 52 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah non-probability sampling jenis purposive sampling. Variabel penelitian yaitu kesiapan fisik dan kesiapan psikologis wanita dalam menghadapi menopause. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengahnya (40,4%) wanita premenopause memiliki kesiapan fisik dalam kategori cukup, dan hampir setengahnya (48,1%) wanita premenopause memiliki kesiapan psikologis dalam kategori cukup dalam menghadapi menopause.</p> <p>Tenaga kesehatan perlu meningkatkan edukasi mengenai menopause kepada wanita premenopause, suami, dan keluarga melalui penyuluhan dan konseling sehingga dapat meningkatkan pengetahuan serta kesiapan fisik dan psikologis wanita dalam menghadapi menopause.</p>Azalia Kirana Putri Zelanda BahariWahyu Tri NingsihWahyuningsih Triana NTeresia Retna Puspitadewi
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-092026-09-095933834410.70570/jikmc.v5i9.2384Hubungan Lama Menderita Ulkus Diabetikum Dengan Tingkat Resiliensi Pada Penderita Ulkus Diabetikum Di Wilayah Kerja Puskesmas Condong Kabupaten Probolinggo
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2409
<p>Ulkus diabetikum merupakan komplikasi kronis diabetes mellitus yang tidak hanya menyebabkan gangguan fisik, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis penderita. Semakin lama ulkus diderita, semakin besar risiko terjadinya penurunan resiliensi yang dapat menghambat proses penyembuhan dan menurunkan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan lama menderita ulkus diabetikum dengan tingkat resiliensi pada penderita ulkus diabetikum. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi berjumlah 57 pasien ulkus diabetikum, dengan sampel sebanyak 51 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Instrumen penelitian meliputi lembar observasi dan kuesioner resiliensi <em>the connor davidson resilience scale</em> (CD-RISC) yang sudah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan uji <em>spearman’s rho</em>. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik nomor 211/KEPK-UNHASA/V/2026. Hasil penelitian menunjukkan lama menderita ulkus diabetikum terbanyak yaitu >6 bulan sebanyak 33 responden (64,7%), dan tingkat resiliensi rendah sebanyak 27 responden (52,9%). Hasil uji <em>Spearman’s rho</em> menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara lama menderita ulkus diabetikum dengan tingkat resiliensi pada penderita ulkus diabetikum dengan nilai <em>p value </em>=0,001; r=0,663. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama penderita hidup dengan ulkus diabetikum, semakin baik tingkat resiliensinya karena pasien telah melalui proses adaptasi terhadap perubahan fisik dan psikologis. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan resiliensi perlu didukung melalui edukasi, pendampingan psikososial, dan dukungan keluarga sebagai bagian dari asuhan keperawatan holistik.</p>Septian Agung WijayaDodik HartonoAinul Yaqin Salam
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125957158410.70570/jikmc.v5i9.2409Kepatuhan Diet Rendah Garam Dengan Tekanan Darah Pasien Hipertensi Peserta Prolanis Di Wilayah Kerja Puskesmas Wire
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2355
<p>Hipertensi masih merupakan masalah kesehatan yang cukup sering terjadi di masyarakat. Salah satu strategi untuk mengendalikan tekanan darah pada penderita hipertensi adalah dengan menerapkan diet rendah garam. Namun, kepatuhan peserta Prolanis terhadap anjuran diet rendah garam masih belum optimal sehingga tekanan darah banyak pasien belum mencapai kondisi terkontrol. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis hubungan antara kepatuhan diet rendah garam dengan tekanan darah pada pasien hipertensi peserta Prolanis di wilayah kerja Puskesmas Wire. Penelitian ini menerapkan desain analitik korelasional dengan pendekatan potong lintang <em>(cross-sectional</em>). Populasi penelitian berjumlah 120 peserta Prolanis. Sebanyak 92 responden dilibatkan dalam penelitian ini dipilih melalui teknik <em>incidendal sampling</em>. Data kepatuhan diet rendah garam diperoleh melalui kuesioner MMAS yang telah dimodifikasi, adapun pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter. Analisis data dilakukan dengan uji <em>Chi-Square. </em>Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar responden tidak patuh terhadap diet rendah garam, 51 orang (55,4%), dan sebagian besar memiliki tekanan darah tidak terkontrol, 53 orang (57,6%). Hasil tabulasi silang memperlihatkan bahwa hampir seluruh responden yang tidak patuh terhadap diet rendah garam mengalami tekanan darah tidak terkontrol sebanyak 45 orang (84,9%). Uji Chi-Square menghasilkan nilai p-value <0,001 (p<0,05), sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Terdapat hubungan antara kepatuhan diet rendah garam dengan pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi. Oleh karena itu, Penerapan diet rendah garam secara patuh perlu dijadikan sebagai komponen penting dalam pengelolaan hipertensi yang berkesinambungan.</p>Tulus Puji NingsihSu’udiTitik SumiatinYasin Wahyurianto
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-042026-09-0459768610.70570/jikmc.v5i9.2355Pengetahuan Tentang Dampak Merokok Terhadap Kesehatan Jantung Di SMK Taruna Jaya Prawira Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2375
<p>Merokok dianggap sebagai salah satu penyebab utama penyakit jantung dan merupakan faktor risiko signifikan bagi penyakit kardiovaskular di seluruh dunia. Di Jawa Timur, jumlah remaja berusia lebih dari 15 tahun yang merokok masih cukup besar. Minimnya pemahaman remaja mengenai konsekuensi merokok bagi kesehatan jantung bisa berdampak pada sikap dan kesadaran mereka dalam merawat kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengetahuan remaja terkait efek merokok terhadap kesehatan jantung di SMK Taruna Jaya Prawira Tuban. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh remaja kelas X Jurusan Teknik Kendaraan Ringan dan Teknik Komputer dan Jaringan SMK Taruna Jaya Prawira Tuban Tahun Ajaran 2025/2026 dengan jumlah sampel 152 remaja. Teknik pengambilan sampel menggunakan <em>simple random sampling</em>. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan dampak merokok terhadap kesehatan jantung. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruh remaja berjenis kelamin laki-laki sebanyak 138 remaja (91%), sedangkan remaja perempuan sebanyak 14 remaja (9%). Sebagian kecil (17%) remaja memiliki tingkat pengetahuan baik tentang dampak merokok terhadap kesehatan jantung. Berdasarkan jenis kelamin, seluruh remaja perempuan (100%) memiliki tingkat pengetahuan baik tentang dampak merokok terhadap kesehatan jantung. Pemahaman tentang efek merokok pada kesehatan jantung tidak hanya datang dari pengajaran di sekolah, tetapi juga harus diperkuat dengan pendidikan kesehatan yang berkelanjutan. Sekolah dapat meningkatkan program pendidikan kesehatan melalui penyuluhan tentang bahaya merokok terhadap kesehatan jantung dan pemasangan media edukasi kesehatan sehingga pemahaman remaja tentang efek merokok terhadap kesehatan jantung bisa bertambah.</p>Cicik VidyantiBinti YunariyahRoudlotul JannahSu’udi
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-092026-09-095924925710.70570/jikmc.v5i9.2375Penerapan Relaksasi Otot Progresif Untuk Menurunkan Kadar Glukosa Darah Pada Penderita DM Tipe 2
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2393
<p>Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Pengendalian kadar glukosa darah tidak hanya dilakukan melalui terapi farmakologis, tetapi juga terapi nonfarmakologis, salah satunya terapi relaksasi otot progresif. Tujuan: Mengetahui kadar glukosa darah sebelum dan sesudah penerapan terapi relaksasi otot progresif pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Desa Mliwis, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian terapan dengan desain studi kasus deskriptif pada dua penderita DM tipe 2 yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi berupa terapi relaksasi otot progresif dilakukan selama 10-15 menit, dua kali sehari selama tiga hari berturut-turut. Kadar glukosa darah sewaktu diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan glukometer, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil: Sebelum intervensi, kadar glukosa darah Ny. K sebesar 466 mg/dL dan Ny. M sebesar 255 mg/dL. Setelah intervensi, kadar glukosa darah Ny. K menurun menjadi 235 mg/dL, sedangkan Ny. M menjadi 103 mg/dL. Kesimpulan: Terapi relaksasi otot progresif dapat membantu menurunkan kadar glukosa darah pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 sehingga dapat dijadikan sebagai terapi pendamping dalam pengelolaan DM</p>SriningsihIda Nur Imamah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-112026-09-115939441110.70570/jikmc.v5i9.2393Gambaran Kepatuhan Diet DASH Pada Pasien Hipertensi Peserta Prolanis Di Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2400
<p>Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Salah satu upaya pengendaliannya adalah melalui penerapan Diet DASH (<em>Dietary Approaches to Stop Hypertension</em>). Keberhasilan penerapan diet ini sangat dipengaruhi oleh tingkat kepatuhan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepatuhan Diet DASH pada pasien hipertensi peserta Prolanis di Puskesmas Tuban.</p> <p>Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi penelitian adalah seluruh pasien hipertensi peserta Prolanis di Puskesmas Tuban. Sampel berjumlah 61 responden yang diambil dengan teknik <em>total sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kepatuhan Diet DASH dengan skala Guttman, kemudian dianalisis secara deskriptif dalam bentuk distribusi frekuensi dan tabulasi silang.</p> <p> Sebagian besar responden berusia 46–55 tahun (55,7%), berpendidikan SMA (52,5%), bekerja sebagai wiraswasta (65,6%), dan berjenis kelamin perempuan (50,8%). Hampir setengah responden memiliki kepatuhan Diet DASH yang baik. Tabulasi silang menunjukkan bahwa kepatuhan baik lebih banyak pada kelompok usia 46–55 tahun, bekerja sebagai pedagang dan wiraswasta, serta berjenis kelamin laki-laki. Sementara itu, kepatuhan kurang lebih banyak ditemukan pada responden berpendidikan perguruan tinggi.</p> <p>Karakteristik usia, pendidikan, pekerjaan, dan jenis kelamin berhubungan dengan gambaran kepatuhan Diet DASH pada pasien hipertensi peserta Prolanis. Sebagian besar pasien menunjukkan kepatuhan yang baik. Edukasi kesehatan yang berkelanjutan, dukungan keluarga, dan pemantauan rutin oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan Diet DASH sehingga pengendalian tekanan darah dapat berlangsung secara optimal.</p>Arifa Mauliza RizkiYasin WahyuriantoTeresia Retna Puspita DewiTitik Sumiatin
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125947748610.70570/jikmc.v5i9.2400Risiko Kejadian Penyakit Jantung Koroner Pada Pasien Hipertensi Di Poli Jantung RSUD dr. R Koesma Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2417
<p>Penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Jutaan orang meninggal setiap tahun akibat penyakit kardiovaskular, dengan hipertensi yang dikenal sebagai faktor risiko signifikan yang memicu timbulnya PJK. Tingginya prevalensi hipertensi serta risiko masalah kardiovaskular yang menyertainya terus menjadi masalah kesehatan yang menuntut strategi pencegahan dan penanganan yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemungkinan individu dengan tekanan darah tinggi menderita penyakit jantung koroner saat mereka menjalani pemeriksaan di Klinik Kardiologi RSUD dr. R. Koesma, Tuban.</p> <p>Penelitian ini menggunakan kerangka kerja deskriptif dan pendekatan kuantitatif. Variabel peneltian ini risiko penyakit jantung koroner (PJK) pada pasien hipertensi. Penelitian melibatkan 224 pasien hipertensi yang menjalani perawatan di departemen kardiologi RSUD Dr. R. Koesma, Tuban. Sebanyak 144 partisipan dipilih menggunakan metode <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan selanjutnya dianalisis secara univariat untuk mengetahui distribusi variabel yang diteliti.</p> <p>Penelitian menunjukkan bahwa hampir setengah penderita tekanan darah tinggi berusia antara 45-59 tahun, dan sebagian besar di antaranya adalah laki-laki. Mayoritas pasien hipertensi memiliki faktor risiko penyakit jantung koroner (PJK), sedangkan hampir setengahnya tidak memiliki gejala risiko PJK. Berdasarkan kelompok usia, sebagian besar pasien hipertensi berusia 45-59 tahun memiliki gejala risiko PJK. Berdasarkan jenis kelamin, sebagian besar perempuan pasien hipertensi memiliki risiko PJK.</p> <p>Elastisitas pembuluh darah dapat menurun seiring bertambahnya usia, sehingga tekanan darah mudah ditingkatkan dan risiko PJK pada pasien hipertensi pun semakin tinggi. Pada perempuan, munculnya gejala risiko PJK juga dipengaruhi oleh perubahan hormonal maupun gaya hidup. Pengendalian tekanan darah, penerapan pola hidup sehat, serta pemeriksaan rutin diperlukan guna mencegah terjadinya komplikasi kardiovaskular.</p>Cindy MelindaYasin WahyuriantoTeresia Retna Puspita DewiWahyu Ningsih Triana Nugraheni
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-132026-09-135963864710.70570/jikmc.v5i9.2417Penerapan Buerger Allen Exercise Untuk Meningkatkan ABI Pada DM Di Puskesmas Gajahan
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2362
<p>Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang dapat menyebabkan komplikasi makrovaskular berupa Peripheral Artery Disease (PAD) yang ditandai dengan penurunan nilai Ankle Brachial Index (ABI). Buerger Allen Exercise (BAE) merupakan intervensi non-farmakologis yang terbukti efektif meningkatkan sirkulasi perifer dan nilai ABI pada pasien DM tipe II.Tujuan: Mendeskripsikan hasil sebelum dan sesudah penerapan Buerger Allen Exercise untuk meningkatkan nilai Ankle Brachial Index pada pasien DM di Puskesmas Gajahan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif pada 2 responden penderita DM tipe II. Intervensi BAE dilakukan selama 15 menit setiap 1 hari sekali selama 3 hari berturut-turut. Pengukuran ABI dilakukan sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test). Hasil: Hasil penerapan BAE menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan menghasilkan peningkatan nilai ABI pada kedua responden dapat dilihat pada Pada Ny. S, nilai ABI meningkat dari 0,81 menjadi 1,07, sementara pada Ny. D meningkat dari 0,84 menjadi 1,18. Besaran kenaikan yang tercatat berkisar antara 0,09 hingga 0,15. Kesimpulan: Penerapan Buerger Allen Exercise efektif meningkatkan nilai Ankle Brachial Index pada pasien DM tipe II dari kategori obstruksi sedang menjadi normal, sehingga berpotensi mencegah komplikasi kaki diabetik.</p>Vadila Isyana PutriHermawati
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-052026-09-055914716110.70570/jikmc.v5i9.2362Gambaran Kepatuhan Dalam Penerapan Prinsip Diet 3J Pada Pasien Diabetes Melitus Di Puskesmas Wire
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2382
<p>Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat gangguan sekresi insulin, penurunan sensitivitas sel tubuh terhadap insulin, atau kombinasi keduanya. Ketidakpatuhan pasien terhadap pengaturan pola makan, khususnya prinsip diet 3J (jumlah, jenis, dan jadwal makan), masih menjadi masalah yang signifikan dalam pengelolaan diabetes melitus dan dapat meningkatkan risiko komplikasi akut maupun kronis. Data Puskesmas Wire Kabupaten Tuban tahun 2025 mencatat 125 pasien diabetes melitus, namun belum tersedia data mengenai tingkat kepatuhan pasien terhadap penerapan prinsip diet 3J. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran kepatuhan dalam penerapan prinsip diet 3J pada pasien diabetes melitus di Puskesmas Wire Kabupaten Tuban.</p> <p> Desain penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Wire Kabupaten Tuban pada bulan Mei 2026. Populasi penelitian adalah seluruh pasien diabetes melitus yang berobat di Puskesmas Wire sejumlah 125 orang. Besar sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan taraf kesalahan 5%, diperoleh 95 responden yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Variabel penelitian meliputi kepatuhan prinsip diet 3J serta karakteristik responden (usia, jenis kelamin, pendidikan, dan lama menderita diabetes melitus). Pengumpulan data menggunakan kuesioner, dan data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabel frekuensi.</p> <p> Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruhnya responden (83,2%) berada pada rentang usia 36-59 tahun, sebagian besar (65,3%) berjenis kelamin perempuan, sebagian besar (53,7%) berpendidikan terakhir Sekolah Dasar (SD), dan sebagian besar (53,7%) telah menderita diabetes melitus kurang dari 5 tahun. Sebagian besar responden (56,8%) tergolong patuh terhadap prinsip diet 3J, sedangkan hampir setengahnya (43,2%) tidak patuh. Berdasarkan karakteristik, kepatuhan lebih banyak ditemukan pada kelompok usia 36-59 tahun, jenis kelamin perempuan, pendidikan SD, serta lama menderita kurang dari 5 tahun.</p> <p> Sebagian besar pasien diabetes melitus di Puskesmas Wire telah patuh menerapkan prinsip diet 3J, namun masih terdapat proporsi pasien yang belum patuh sehingga berisiko terhadap ketidakstabilan kadar glukosa darah dan komplikasi. Diperlukan peningkatan edukasi dan pendampingan yang berkesinambungan oleh tenaga kesehatan, khususnya dalam program Prolanis, guna meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengaturan jumlah, jenis, dan jadwal makan.</p> <p> </p>Aprilia Linda Wati PutriYasin WahyuriantoTeresia Retna PuspitadewiWahyu Tri Ningsih
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-092026-09-095932032910.70570/jikmc.v5i9.2382Hubungan Dukungan Keluarga, Motivasi Ibu Dan Budaya Dengan Kepatuhan Ibu Dalam Pemberian Imunisasi Dpt Pada Bayi Di Desa Ranuwurung Kabupaten Probolinggo
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2407
<p>Imunisasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus) merupakan salah satu imunisasi dasar yang berperan penting dalam mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus pada bayi. Meskipun program imunisasi telah tersedia secara luas, masih terdapat ibu yang belum patuh dalam memberikan imunisasi DPT sesuai jadwal. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Dukungan Keluarga, Motivasi Ibu dan Budaya Dengan Kepatuhan Ibu Dalam Pemberian Imunisasi DPT Pada Bayi <a href="http://repository.unej.ac.id/">Usia 2-9 Bulan</a> Di Desa Ranuwurung Kabupaten Probolinggo. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dengan pendekatan <em>Cross Sectional</em>. Populasi dalam penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 2–9 bulan sejumlah 40 orang di Desa Ranuwurung, Kabupaten Probolinggo. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan lembar observasi yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik<em> Spearman rank. </em>Dari hasil penelitian didapatkan yaitu sebagian besar dukungan keluarga cukup dengan kepatuhan imunisasi yang cukup sebanyak 12 (30,0%) responden, sebagian besar motivasi ibu sedang dengan kepatuhan imunisasi yang cukup patuh sebanyak 17 (42,5%) responden, sebagian besar budaya yang cukup mendukung dengan kepatuhan imunisasi cukup mendukung sebanyak 19 (47,5%) responden, hasil penelitian menggunakan analisis uji statistik <em>Spearman rank</em> diperoleh <em>p-value</em> = 0,000 < 0,05, maka H1 diterima, sehingga ada hubungan dukungan keluarga, motivasi ibu dan budaya dengan kepatuhan ibu dalam pemberian imunisasi DPT. Diharapkan dari hasil penelitian ini tenaga kesehatan di desa Ranuwurung melalui program edukasi imunisasi, konseling serta pendekatan budaya yang sesuai dapat meningkatkan kepatuhan ibu terhadap pemberian imunisasi DPT.</p>Mira AisyahWardatul WashilahWidya Addiarto
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125954355810.70570/jikmc.v5i9.2407Konsumsi Kopi Dengan Kejadian Hipertensi Pada Peserta Prolanis Di Puskesmas Wire
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2352
<p>Hipertensi ialah salah satu penyakit tidak menular yang menjadi perhatian dalam bidang kesehatan masyarakat karena bisa menimbulkan berbagai komplikasi apabila tidak dikendalikan dengan baik. Salah satu faktor gaya hidup yang diperkirakan bisa memengaruhi tekanan darah ialah kebiasaan konsumsi kopi. Kandungan kafein dalam kopi bisa merangsang sistem saraf pusat sehingga berpotensi menaikkan tekanan darah. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi pada peserta Prolanis di Puskesmas Wire. Penelitian ini memakai metode penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ialah seluruh peserta Prolanis di Puskesmas Wire sebanyak 40 orang dengan teknik total sampling. Variabel independen yakni konsumsi kopi, sedangkan variabel dependen yakni kejadian hipertensi. Pengumpulan data dilaksanakan memakai kuesioner, tensimeter, serta buku Prolanis atau rekam medis. Analisis data memakai uji Spearman Rank. Hasil penelitian memperlihatkan bahwasanya 14 responden (35%) memiliki tingkat konsumsi kopi kategori sedang, sedangkan 31 responden (77,5%) mengalami hipertensi. Hasil uji statistik Spearman Rank diperoleh nilai p = 0,065 (p > 0,05), yang memperlihatkan bahwasanya tidak ada korelasi yang signifikan antara konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi pada peserta Prolanis di Puskesmas Wire. Temuan ini memperlihatkan bahwasanya tidak ada korelasi yang signifikan antara konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi pada peserta Prolanis di Puskesmas Wire. Peserta Prolanis diharapkan tetap menerapkan pola hidup sehat untuk mencegah terjadinya hipertensi.</p>Nielza Safina Safira Chayyun NajachSu’udiTitik SumiatinWahyu Tri Ningsih
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-022026-09-0259506110.70570/jikmc.v5i9.2352Pola Makan Pada Pasien Penderita Penyakit Jantung Koroner Di Poli Jantung RSUD Dr. R. Koesma Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2371
<p>Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang menjadi penyebab utama kematian di dunia. Pola makan merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan berperan dalam perkembangan penyakit jantung koroner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola makan pada penderita penyakit jantung koroner di Poli Jantung RSUD Dr. R. Koesma Tuban. Penelitian ini menggunakan desain <em>deskriptif</em>, pendekatan <em>cross-sectional </em>Populasi penelitian adalah seluruh penderita penyakit jantung koroner yang berkunjung ke Poli Jantung RSUD Dr. R. Koesma Tuban. Sampel berjumlah 99 orang yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang meliputi frekuensi makan, jenis makanan, konsumsi lemak, gula dan garam, konsumsi buah dan sayur, serta keteraturan makan. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi makan sebagian besar berada pada kategori cukup, jenis makanan sebagian besar berada pada kategori cukup dan kurang, konsumsi lemak, gula dan garam sebagian besar berada pada kategori cukup, konsumsi buah dan sayur berada pada kategori baik, cukup, dan kurang, serta keteraturan makan sebagian besar berada pada kategori cukup. Secara keseluruhan, pola makan pada penderita penyakit jantung koroner sebagian besar berada pada kategori cukup. Pola makan yang berada pada kategori cukup menunjukkan bahwa pasien telah menerapkan sebagian prinsip pola makan sehat, masih terdapat kebiasaan konsumsi makanan yang kurang sesuai dengan anjuran bagi penderita penyakit jantung koroner. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh kebiasaan makan yang telah berlangsung lama, tingkat pengetahuan, serta kemampuan pasien dalam menerapkan pola makan sehat secara konsisten. Perbaikan pola makan diperlukan terutama dalam pengendalian konsumsi lemak, gula, dan garam serta peningkatan konsumsi buah dan sayur.</p>Awanda Dwi AprilliaSu’udiTitik SumiatinBinti Yunariyah
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-082026-09-085922923810.70570/jikmc.v5i9.2371 Upaya Keluarga Dalam Pencegahan Penularan Tuberkulosis Di Wilayah Kerja Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2391
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Tuberkulosis menjadi tantangan kesehatan global, dengan Indonesia menempati beban kasus terbesar kedua. Di Puskesmas Tuban, terjadi peningkatan angka kejadian Tuberkulosis, dengan kasus meningkat menjadi 75 kasus pada tahun 2024. Penularan rumah dipicu kontak erat, rendahnya perilaku pencegahan, dan buruknya lingkungan fisik. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran upaya keluarga dalam pencegahan penularan TB di wilayah tersebut.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran upaya keluarga dalam pencegahan penularan TB di wilayah tersebut.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi menggunakan seluruh keluarga dengan salah satu anggota keluarga terdiagnosis Tuberkulosis dan sedang menjalani pengobatan berjumlah 50 keluarga. <em>Sample </em>berjumlah 50 keluarga menggunakan <em>total sampling</em>. Variabel penelitian adalah upaya keluarga dalam pencegahan penularan Tuberkulosis. Instrumen menggunakan kuesioner. Penyajian data dilakukan deskriptif melalui kalkulasi persentase dan frekuensi</p> <p><strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian menunjukkan keluarga pasien Tuberkulosis sebagian besar (54%) berjenis kelamin perempuan, hampir seluruhnya (94%) berusia 20-59 tahun, setengahnya (50%) berpendidikan SMA, sebagian besar (56%) tipe keluarga inti, sebagian besar (58%) berpenghasilan < 2 Juta, hampir setengahnya (48%) pasangan suami istri. Upaya keluarga dalam pencegahan penularan TB hampir setengahnya (46%) dalam kategori cukup dan Sebagian kecil (22%) dalam kategori kurang. Sebagian besar (51,9%) upaya pencegahan Tuberkulosis kategori cukup berjenis kelamin perempuan, seluruhnya (100%) berusia >60 tahun, sebagian besar (53,6%) memiliki tipe keluarga inti, sebagian besar (52,6%) berstatus sebagai anak pasien. Sebagian besar (71,4%) upaya pencegahan kategori baik berpendidikan perguruan tinggi, sebagian besar (60%) memiliki penghasilan >3 juta.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Upaya keluarga dalam pencegahan penularan Tuberkulosis sebagian besar dalam kategori cukup. Diperlukan optimalisasi tindakan pencegahan, khususnya pada aspek lingkungan fisik rumah dan perilaku sehari-hari bagi keluarga dengan tingkat ekonomi dan pendidikan rendah.</p>Afinda Maya MarseliaWahyuningsih Triana NugraheniWahyu Tri NingsihTeresia Retna Puspitadewi
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-112026-09-115937638510.70570/jikmc.v5i9.2391Faktor Risiko Kejadian Hipertensi Pada Masyarakat Di Desa Mandirejo Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2398
<p>Hipertensi adalah salah satu penyakit yang tidak menular dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena angka kejadiannya yang masih tinggi. Tingginya kejadian hipertensi membuktikan yakni upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi di masyarakat belum berjalan secara optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan faktor risiko kejadian hipertensi pada masyarakat di Desa Mandirejo Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan <em>cross-sectional </em>dengan desain deskriptif<em>.</em> Variabel penelitian adalah faktor risiko hipertensi meliputi pola makan, aktivitas fisik, kondisi stres, pola tidur, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol. Populasi penelitian berjumlah 214 masyarakat dengan sampel sebanyak 140 masyarakat yang dipilih dengan metode <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi pengukuran tekanan darah, kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi dan persentase.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52 masyarakat (37,1%) memiliki tekanan darah normal, 38 masyarakat (27,1%) mengalami prehipertensi, 34 masyarakat (24,3%) mengalami hipertensi stadium 1, dan 16 masyarakat (11,4%) mengalami hipertensi stadium 2. Hampir setengahnya masyarakat dengan pola makan cukup (45,1%), aktivitas fisik baik (39,6%), stres ringan (44,8%), tidak memiliki kebiasaan merokok (39,3%), dan tidak mengonsumsi alkohol (37,7%) memiliki tekanan darah normal. Selain itu, setengahnya masyarakat dengan pola tidur kurang (50,0%) memiliki tekanan darah normal.</p> <p>Faktor risiko hipertensi pada masyarakat sebagian besar berada dalam kategori baik yang mencerminkan penerapan perilaku hidup sehat dan didukung oleh aktivitas masyarakat yang aktif serta lingkungan sosial dan keagamaan yang kuat. Meskipun demikian, hipertensi masih ditemukan pada sebagian masyarakat sehingga diperlukan upaya promotif dan preventif sebagai bentuk pengendalian faktor risiko hipertensi serta mencegah peningkatan kejadian hipertensi di masyarakat.</p>Sofi Yulia AfiantiWahyuningsih Triana NugraheniWahyu Tri Ningsih 3Su’udi
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125945747110.70570/jikmc.v5i9.2398Self-Efficacy Dengan Manajemen Perawatan Diri Pada Penderita Diabetes Melitus Di Puskesmas Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2414
<p>Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan manajemen perawatan diri yang baik untuk mengontrol kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi. Manajemen perawatan diri meliputi berbagai upaya yang dilakukan secara mandiri oleh penderita dalam mengelola kondisi kesehatannya. Namun, pada kenyataannya, manajemen perawatan diri pada penderita diabetes melitus masih tergolong rendah.</p> <p>Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan <em>Cross-Sectional</em>. Populasi penelitian adalah seluruh anggota prolanis yang menderita diabetes melitus di Puskesmas Tuban yang berjumlah 65 penderita diabetes melitus, dengan sampel 56 penderita yang dipilih menggunakan teknik <em>simple random sampling</em>. Variabel independen dalam penelitian ini adalah <em>Self-Efficacy</em>, sedangkan variabel dependen adalah manajemen perawatan diri. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner <em>Diabetes Management Self-Efficacy Scale</em> (DMSES) dan <em>Summary of</em> <em>Diabetes Self-Care Activities</em> (SDSCA). Analisis data dilakukan menggunakan uji <em>Chi-Square</em> dengan tingkat signifikansi α = 0,05.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita diabetes melitus memiliki <em>Self-Efficacy</em> tinggi (57,1%) dan sebagian besar penderita diabetes melitus memiliki manajemen perawatan diri baik (60,7%). Hasil uji <em>Chi-Square</em> menunjukkan nilai <em>P-Value</em> < 0,001, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara <em>Self-Efficacy</em> dengan manajemen perawatan diri pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Tuban.</p> <p><em>Self-Efficacy</em> memiliki peran penting dalam meningkatkan manajemen perawatan diri pada penderita diabetes melitus. Semakin tinggi <em>Self-Efficacy</em> yang dimiliki penderita, semakin baik kemampuan mereka dalam melakukan perawatan diri sehingga dapat membantu mencegah komplikasi diabetes melitus.</p>Berliana Kartika PutriTitik SumiatinSu’udiWahyuningsih Triana Nugrahaeni
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-122026-09-125961962710.70570/jikmc.v5i9.2414Pengetahuan Remaja Tentang Penyakit Menular Seksual Pada Siswa Di SMK Abdi Negara Tuban
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2360
<p>Penyakit Menular Seksual (PMS) masih menjadi isu kesehatan reproduksi yang penting, terutama di kalangan remaja. PMS merujuk pada infeksi yang ditularkan melalui kontak seksual dan dapat memiliki konsekuensi fisik, psikologis, dan sosial. Kurangnya pemahaman di kalangan remaja tentang PMS berpotensi meningkatkan kemungkinan terlibat dalam aktivitas seksual berisiko, yang pada gilirannya meningkatkan prevalensi PMS. Penelitian ini dibuat untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang PMS di SMK Abdi Negara di Tuban. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Unit analisis dalam penelitian ini mencakup semua siswa kelas 10 dan 11 di SMK Abdi Negara Tuban, totalnya ada 175 orang. Dari total peserta, dipilih 122 orang sebagai sampel dengan menggunakan teknik simple random sampling. Fokus utama dari variabel penelitian ini adalah tingkat pemahaman remaja terhadap penyakit menular seksual (PMS). Data diperoleh melalui kuesioner, lalu dianalisis secara deskriptif dengan cara menggunakan distribusi frekuensi. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik, yaitu sebanyak 74 orang (60,7%), kemudian ada 47 orang (38,5%) yang memiliki pengetahuan cukup, dan hanya 1 orang (0,8%) yang memiliki pengetahuan kurang. Berdasarkan data responden, sebagian besar berusia 17 - 19 tahun, yaitu sebanyak (59%), berada di kelas 10 yang mencapai (51,6%), dan sekitar 69,7% dari mereka adalah Perempuan. Tingkat pemahaman tentang Penyakit Menular Seksual (PMS) di kalangan siswa SMK Abdi Negara Tuban secara umum baik. Pemahaman yang komprehensif merupakan elemen penting dalam mencegah PMS di kalangan remaja. Oleh karena itu, perlu meningkatkan kualitas program pendidikan kesehatan reproduksi, dengan melibatkan partisipasi aktif lembaga pendidikan, tenaga medis, dan lingkungan keluarga untuk memastikan bahwa remaja menerima informasi yang valid dan memiliki kemampuan untuk menghindari aktivitas berisiko.</p>Sya’bana Aditya SubektiTitik SumiatinSu’udiWahyu Tri Ningsih
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-042026-09-045912713710.70570/jikmc.v5i9.2360Penerapan Senam Kaki Diabetik Menggunakan Koran Dalam Meningkatkan Sensitivitas Kaki Pasien DM Tipe 2 Di Pukesmas Gambirsari
https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/view/2380
<p>Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Salah satu komplikasi DM adalah neuropati perifer yang dapat menyebabkan penurunan sensitivitas kaki. Berdasarkan studi pendahuluan di Puskesmas Gambirsari, sebagian besar penderita DM Tipe 2 mengeluhkan kebas dan kesemutan pada kaki.Tujuan: Mendeskripsikan hasil implementasi sebelum dan sesudah penerapan senam kaki menggunakan koran terhadap sensitivitas kaki pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada 2 responden. Intervensi senam kaki menggunakan koran dilakukan selama 2 minggu sebanyak 6 kali pertemuan dengan durasi 15 menit setiap pertemuan. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, alat tes monofilament 10 gram, dan koran. Hasil: Terdapat peningkatan sensitivitas kaki pada kedua responden setelah dilakukan senam kaki menggunakan koran selama 2 minggu sebanyak 6 kali pertemuan. Kesimpulan: Penerapan senam kaki menggunakan koran bermanfaat dalam meningkatkan sensitivitas kaki pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2.</p>Verdina Putri Ardi WijiantiBagas Biyanzah Drajad Pamukhti
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia
2026-09-092026-09-095930031210.70570/jikmc.v5i9.2380