Perilaku Etika Batuk Pada Penderita Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Tuban

Authors

  • Muhammad Fajar Wirra Irfani Poltekkes Kemenkes Surabaya
  • Wahyuningsih Triana Nugrahaeni Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya
  • Wahyu Tri Ningsih Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya
  • Titik Sumiatin Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.70570/jikmc.v5i9.2365

Keywords:

Etika Batuk, Tuberkulosis Paru, Perilaku Kesehatan, Pendidikan, Usia, Jenis Kelamin

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit menular yang ditimbulkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, ditularkan lewat percikan droplet ketika penderita batuk atau bersin. Sepanjang tahun 2026, tercatat 58 orang penderita TB paru menjalani perawatan di Puskesmas Tuban. Salah satu langkah pencegahan penularan yang tergolong penting adalah penerapan etika batuk, meski praktiknya di lapangan turut dipengaruhi oleh karakteristik individu penderita, mencakup latar belakang pendidikan, kelompok usia, serta jenis kelamin. Studi ini disusun guna memperoleh gambaran mengenai perilaku etika batuk pada penderita TB paru di Puskesmas Tuban ditinjau dari ketiga karakteristik tersebut. Rancangan yang digunakan bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Seluruh penderita TB paru di Puskesmas Tuban, yakni 58 orang, dijadikan populasi sekaligus sampel penelitian melalui teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan memakai kuesioner checklist beranggotakan 10 butir pernyataan, meliputi kebiasaan menutup mulut, pemakaian masker, cara pembuangan dahak, hingga kebersihan tangan. Selanjutnya, data diolah secara univariat dan ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi maupun tabulasi silang. Temuan penelitian memperlihatkan hampir separuh responden (31,0%) menamatkan pendidikan pada jenjang SMP, mayoritas (74,1%) tergolong kelompok usia 20-59 tahun, dan sebagian besar (55,2%) berjenis kelamin perempuan. Selain itu, mayoritas penderita (74,1%) tercatat memiliki perilaku etika batuk tergolong baik. Melalui tabulasi silang terungkap bahwa hampir keseluruhan (90,9%) penderita berpendidikan SD dan seluruh (100%) penderita yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah memiliki etika batuk kurang memadai. Pada kelompok usia produktif, hampir seluruhnya (95,3%) menunjukkan perilaku baik, sementara mayoritas (71,4%) penderita lanjut usia justru berperilaku kurang baik. Adapun di antara penderita berperilaku baik, sebagian besar (75,0%) berjenis kelamin perempuan. Dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan, usia, serta jenis kelamin turut membentuk perilaku etika batuk pada penderita. Rendahnya jenjang pendidikan berkaitan erat dengan minimnya pemahaman terhadap upaya pencegahan penularan TB. Sementara itu, kelompok lanjut usia membutuhkan strategi edukasi yang lebih bersifat personal, sedangkan penderita perempuan cenderung menunjukkan kepatuhan lebih tinggi dalam menjalankan perilaku pencegahan. Oleh karena itu, edukasi kesehatan yang berkesinambungan dengan pendekatan adaptif tetap diperlukan, terutama bagi penderita berpendidikan rendah dan kelompok lansia.

Downloads

Published

2026-09-06

How to Cite

Muhammad Fajar Wirra Irfani, Wahyuningsih Triana Nugrahaeni, Wahyu Tri Ningsih, & Titik Sumiatin. (2026). Perilaku Etika Batuk Pada Penderita Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Tuban. Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia, 5(9), 188–197. https://doi.org/10.70570/jikmc.v5i9.2365

Issue

Section

Articles

Most read articles by the same author(s)

<< < 4 5 6 7 8 9