Pengetahuan Remaja Tentang Penyakit Menular Seksual Pada Siswa Di SMK Abdi Negara Tuban
DOI:
https://doi.org/10.70570/jikmc.v5i9.2360Keywords:
Pengetahuan, Remaja, Penyakit Menular SeksualAbstract
Penyakit Menular Seksual (PMS) masih menjadi isu kesehatan reproduksi yang penting, terutama di kalangan remaja. PMS merujuk pada infeksi yang ditularkan melalui kontak seksual dan dapat memiliki konsekuensi fisik, psikologis, dan sosial. Kurangnya pemahaman di kalangan remaja tentang PMS berpotensi meningkatkan kemungkinan terlibat dalam aktivitas seksual berisiko, yang pada gilirannya meningkatkan prevalensi PMS. Penelitian ini dibuat untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang PMS di SMK Abdi Negara di Tuban. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Unit analisis dalam penelitian ini mencakup semua siswa kelas 10 dan 11 di SMK Abdi Negara Tuban, totalnya ada 175 orang. Dari total peserta, dipilih 122 orang sebagai sampel dengan menggunakan teknik simple random sampling. Fokus utama dari variabel penelitian ini adalah tingkat pemahaman remaja terhadap penyakit menular seksual (PMS). Data diperoleh melalui kuesioner, lalu dianalisis secara deskriptif dengan cara menggunakan distribusi frekuensi. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik, yaitu sebanyak 74 orang (60,7%), kemudian ada 47 orang (38,5%) yang memiliki pengetahuan cukup, dan hanya 1 orang (0,8%) yang memiliki pengetahuan kurang. Berdasarkan data responden, sebagian besar berusia 17 - 19 tahun, yaitu sebanyak (59%), berada di kelas 10 yang mencapai (51,6%), dan sekitar 69,7% dari mereka adalah Perempuan. Tingkat pemahaman tentang Penyakit Menular Seksual (PMS) di kalangan siswa SMK Abdi Negara Tuban secara umum baik. Pemahaman yang komprehensif merupakan elemen penting dalam mencegah PMS di kalangan remaja. Oleh karena itu, perlu meningkatkan kualitas program pendidikan kesehatan reproduksi, dengan melibatkan partisipasi aktif lembaga pendidikan, tenaga medis, dan lingkungan keluarga untuk memastikan bahwa remaja menerima informasi yang valid dan memiliki kemampuan untuk menghindari aktivitas berisiko.







